Outsider

Posted on 20 April 2009 by

2


rokok1

Top management menyarankan kepada midle management untuk menyelenggarakan upgrading session, baik dalam bentuk pelatihan ataupun seminar. Tapi semua kegiatan yang diselenggarakan oleh manajemen, tak kunjung menstimulasi perubahan. Padahal manajemen menyepakati, seluruh karyawan yang ada, perlu perlu dikembangkan potensi keterampilan maupun pribadi. Namun, beberapa kali pihak manajemen melakukan kegiatan internal, tak jua ada hasil.

Perhatikan bungkus rokok itu. Saya mengandaikan sebuah organisasi, yang di dalamnya terdapat orang-orang yang memiliki keberagaman kondisi psikis, namun memiliki keseragaman status. Orang-orang yang ada di dalam perusahaan ini sama-sama ingin meningkatkan kualitas perusahaan, tapi mereka kadung sudah saling mengetahui kartu AS sesamanya. Jika muncul seseorang dari mereka, menggagas sebuah perubahan, sikap yang timbul di sebagaian orang adalah skeptis, atau bahkan nyeleneh. Ada juga yang bersikap mendukung, tetapi menyadari konsekuensi dari gagasan perubahan tersebut terhadap kenyamanan posisinya saat ini.

Saat seperti ini, yang dibutuhkan adalah “ORANG LUAR”. Pihak manajemen harus berani membayar outsider untuk merencanakan sistem pengembangan diri karyawannya. Walaupun apa yang akan disampaikan oleh para presenter/motivator dari luar itu sama saja dengan apa yang pernah disampaikan oleh orang-orang di HRD Perusahaan, namun akan lebih menjanjikan perubahan.

Biasanya, jika seseorang mendengar nasihat dari sesama karyawan, dia hanya manggut-manggut, tapi tak bergerak untuk menjalankan nasihat tersebut. Tapi jika yang bicara adalah orang lain, apalagi jika sebelumnya pihak manajemen melakukan edifikasi terhadap lembaga pihak ketiga atau trainernya, maka karyawan tersebut akan tergerak untuk berubah.

Karena itu, kehadiran pihak ketiga sangat penting jika sebuah organisasi hendak merancang sebuah perubahan.

Advertisements