Supertrainer dan Tukang Santet

Posted on 25 April 2009 by

3


Mana yang bisa mengubah nasib seseorang, super-trainer atau tukang santet? Di gedung Sucofindo Cilegon, seorang super-trainer bicara di depan ratusan audiensnya. Sebuah topik diangkat, tentang manajemen cita-cita, bagaimana seseorang merancang masa depannya. Ini merupakan topik yang sering diangkat dalam setiap kegiatan training pengembangan diri. Apakah training seperti ini dapat benar-benar mengubah keadaan, mengubah nasib? Itu tergantung dari kesungguhan audiens dalam mengejar apa yang diimpikannya.

Sang super-trainer dengan segala macam informasi dan improvisasi hanya sekedar menggerakkan pengunjung dengan kata-kata. Rangkaian kata-kata yang dapat memantik semangat pengunjung yang kebanyakan adalah orang-orang miskin yang ingin menjadi kaya. Apakah kata-katanya tersebut dapat menularkan nasib yang lebih baik ketimbang pengunjungnya? Hal itu kembali tergantung dari aksi pengunjung itu sendiri dalam realitas kehidupannya.

Tiga hari sebelumnya aku menyaksikan sebuah presentasi bisnis di Aston Hotel, Jakarta. Sebuah perusahaan multi level marketing sedang mencari orang-orang yang smart, work-hard, ambitious, network-team untuk bergabung mengembangkan perusahaan level dunia tersebut. Sang presenter mengemukakan, para pengunjung akan mendapatkan uang sebesar 50 ribu dollar Amerika per bulan. Jumlah yang lebih besar ketimbang beberapa bisnis MLM yang sudah banyak merekruit anggota di negeri ini. Hampir semua peserta bersemangat dan meneriakkan kata-kata optimis untuk mengejar kekayaan. Atmosfir dalam ruangan tersebut begitu bersemangat, tak ada keraguan, tak ada pesimisme. Yang ada hanya impian yang mengambang di atas kepala untuk diraih bersama-sama.

Dalam kesempatan tersebut aku diminta untuk memberikan respon yang menyenangkan mereka. Aku bilang, bahwa apa yang mereka bicarakan tidak semuanya benar. Aku coba menyentil mereka dengan mengangkat kalangan rakyat miskin yang ada di negeri ini. Kelas masyarakat yang untuk membeli sebuah sabun saja sangat sulit. Aku nyatakan pada mereka, mayoritas negeri ini adalah rakyat miskin. Mungkinkah rakyat miskin diajak bisnis seperti yang mereka tawarkan? Instruktur menjawab sangat mungkin, karena setiap anggota akan selalu dimotivasi dan disupport oleh perusahaan. Aku lontarkan kembali pertanyaan, bagaimana mungkin orang miskin bisa menjadi anggota kalau untuk membeli produk standar saja mereka tak mampu? Instruktur itu bilang, jangan ajak mayoritas miskin. Tapi ajaklah minoritas kaya, walaupun hanya 5% saja.

Dari training ke training, biasanya kita diajak untuk menjadi kaya. Karena kalau tidak kaya, bagaimana kita bisa membantu orang. Itu kata kunci dari para presenter. Saya ulangi, kalau tidak kaya, bagaimana bisa membantu orang lain? Benarkah orang-orang kaya itu mau membantu orang lain? Jarang sekali aku temukan orang-orang seperti itu. Yang sering aku temukan adalah orang-orang kaya yang saling membantu dalam kalangannya sendiri. Mereka tak mau membantu orang yang dianggapnya tak bisa memberikan keuntungan, baik secara material maupun dalam bentuk popularitas. Bahkan untuk memberikan kartu nama saja, presenter itu hanya menyerahkannya kepada orang-orang yang berpakaian mentereng dan sudah jelas jabatannya dalam sebuah perusahaan. Bagi orang biasa, ia pasti bilang, “saya hanya bawa sedikit!”.

Kalau memang orang-orang itu berniat kaya untuk dapat membantu orang lain, ada satu pertanyaanku : sejak kapan training MLM dan training pengembangan diri itu digelar di negeri ini? Sudah berapa banyak bonus yang mereka dapatkan, berupa mobil, motor, rumah mewah, bahkan pesawat pribadi dan kapal pesiar. Apakah dengan kayanya mereka, persentase orang-orang miskin berkurang? Kata sahabat saya, Sambel74, Bullshit kalau ada orang yang kepingin kaya agar bisa membantu orang lain. Omon koson! kalau kata Che Kho Fong.

Apa yang disampaikan oleh super-trainer ataupun para presenter dalam forum-forum pelatihan seperti itu bagaikan konser musik rock. Hadirin yang menyaksikan akan terbawa dalam atmosfir optimisme, namun ketika keluar dari ruangan, mereka sendiri bingung untuk mulai melaksanakan exercise yang diberikan dalam training tersebut. Banyak orang lupa komunitasnya jika sudah berada dalam training-training seperti itu. Mereka baru menyadari jika telah kembali pada kehidupan nyatanya, hidup di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas miskin dan mengenaskan seperti di Indonesia ini.

Kemiskinan adalah setan yang tak pernah mati di negeri ini. Berapa sudah presiden yang memimpin negeri ini. Berapa sudah anggota legislatif bergonta-ganti. Berapa banyak oportunis yang mengisi gedung parlemen. Berapa banyak LSM berdiri mencari donasi. Apakah nasib rakyat miskin berubah? 100% TIDAK BERUBAH. Yang miskin tetap miskin. Bahkan ada juga yang makin melarat dan mengenaskan. Yang kaya makin merajalela, yang kuasa makin lupa jiwa.

Kemiskinan adalah penyakit yang sulit disembuhkan. Bahkan dalam beberapa kasus, kemiskinan adalah penyakit turun temurun yang menular dari generasi ke generasi. Orang yang dilahirkan miskin, tak akan jauh masa depannya dari situ. Adapun segelintir orang miskin yang mendapatkan keberuntungan menjadi kaya, sedikit sekali yang mau kembali bergabung dengan komunitas miskin, karena takut penyakitnya kambuh lagi.

Mantan temanku mencontohkan hal tersebut. Sebut saja namanya Mr. Ghiber, waktu kuliah, ia menumpang di rumah kontrakan yang aku sewa. Makan tidak dari uang sakunya karena kantongnya sering kosong. Lama sekali ia tinggal bersama hingga pergi karena selesai kuliah dan bekerja dari satu tempat ke tempat lainnya. Lima tahun kemudian aku nyaris bertemu dengannya. Seorang temanku menyampaikan pesan kalau Ghiber kangen dengan teman-teman lama. Katanya Ghiber sudah jadi kaum borjuis di gedung MPR/DPR. Temanku bilang, Ghiber sudah sewa vila untuk sebuah reuni kawan lama. Tapi nyatanya ia tak jadi datang, dengan alasan lelah. Padahal aku dan teman-temanku yang miskin sudah ngumpul di vila yang nyatanya belum dipanjer. Terpaksalah kami patungan untuk bayar vila tersebut semalaman.

Itu salah satu bukti orang kaya yang takut ketularan miskin. Padahal penyakit miskin itu tidaklah menyiksa. Miskin adalah penyakit yang tak terasa kalau kita tak pernah mengeluhkannya. Apalagi kalau kita merasa cukup dengan apa yang kita dapatkan, maka penyakit miskin itu dengan sendirinya sembuh. Tapi bukan berarti kita lantas jadi kaya raya. Paling tidak, hidup dengan merasa cukup dan tak mengeluh adalah obat mujarab yang dapat menyembuhkan penyakit miskin.

Kembali kepada suasana training pengembangan diri di atas. Setelah selesai mengikuti latihan dari super-trainer, aku bertanya kepada seorang guru yang yang berkenalan denganku. Apa yang bapak rencanakan setelah mengikuti acara ini. Ia bilang ingin mengikuti cara dan gaya super-trainer dalam mengajar anak didiknya. Hanya itu saja. Ia tak ingin menjadi kaya, sebab ia sendiri tak yakin kalau ia bisa kaya. Ia hanya ingin mencontoh cara super-trainer itu dalam mempengaruhi orang lain. Paling tidak, cara dan gaya yang dicontohnya itu bisa membuat ia bertahan sebagai pengajar dan tetap mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupnya. Jika hanya cara dan gaya saja yang ditularkan oleh sang super-trainer, siapapun bisa melakukannya. Tokh untuk ngebacot di depan orang itu adalah pekerjaan mudah. Tapi menularkan nasib? Kata mang Odon, hanya tukang santet yang bisa! He he he…

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas