Kekayaan Membius

Posted on 30 April 2009 by

4


Kekayaan adalah hak setiap orang untuk mendapatkannya. Tidak ada larangan dalam agama manapun untuk menjadi kaya. Sedangkan kemiskinan itu bukanlah anugrah, melainkan resiko yang harus diterima seseorang atas pilihan hidupnya. Pernyataan itu kudapatkan dari beberapa seminar, di Jakarta maupun di kota lainnya.

Begitu banyak seminar diselenggarakan. Sering sekali e-mail berisi undangan seminar kuterima. Begitupun di facebook, sering kudapatkan pesan berisi undangan seminar, workshop, training, yang intinya adalah pengembangan diri dan enterpreneurship. Aku tak menampik datangnya undangan apapun. Bahkan spam yang berisi jualan impian, minta sumbangan, bahkan ajakan meraup uang secara instan via internetpun tak ku-blocking. Ini resiko berinteraksi di dunia maya. Menyumpahinyapun hanya buang-buang energi saja.

Sekali-sekali, kurasakan enak juga mengikuti seminar begituan. Ketika di dalam ruangan, saat sang trainer/motivator sedang presentasi, akupun merasakan energi yang meluap-luap. Merasa seperti ada yang terlupakan selama menjalani hidup dan baru “ngeh” ketika menyimak kata-kata bak mantra sang pembicara.

Tapi kebanyakan semangat itu hanya terasa tidak lebih dari 7 hari saja. Bahkan pada beberapa orang, hanya terasa saat masih berada dalam ruangan saja. Walau ada juga yang bertahan selama hidupnya. Orang seperti ini bolehlah mendapatkan acungan jempol, karena telah terjadi perubahan dalam gaya hidupnya. Dandanannya selalu rapih agar mengesankan orang yang sukses. Bicaranya selalu bersemangat agar mengesankan orang yang optimis. Namun (Bukan Bang Namun!) kadang aku tak melihat perubahan dalam hatinya. Tak ada perubahan pada jiwanya. What?

Dalam perjalanan pulang seminar dari Bandung. Aku termasuk orang yang beruntung dari 5 orang lainnya, yang diberi tumpangan oleh salah seorang trainer yang membawa Innova kebanggaanya, menuju Jakarta. Sepanjang jalan kami mengulas pesan-pesan dari sang trainer. Salah seorang mengulas, “Aku baru sadar, kalau selama ini cita-citaku untuk menjadi orang dermawan, terhalangi oleh ketidakberdayaanku membebaskan diri dari kemiskinanku.”  Yang lain mengulang, “Ya, jika kita tidak kaya, bagaimana mungkin bisa membantu orang lain?” Yang lain menyetujui, tapi tidak seperti koor setuju anggota legislatif yang terhormat di gedung kura-kura hijau sana.

Memasuki Jakarta, mobil berhenti karena menaati kode Lampu Merah, seorang pengamen tua mendendangkan lagu nestapa. Aku memperhatikannya karena duduk paling pinggir dekat jendela, di belakang si empunya innova. Kuberikan selembar rupiah padanya, lalu iapun beranjak ke mobil lainnya. Tapi spontanitasku menuai protes.

“Mas! Jika anda ke sini lagi tahun depan, pasti orang itu masih ngamen!” Kata seorang yang duduk di belakangku. “Apa yang anda lakukan, justru membuatnya semakin malas!” kata yang lainnya. “Mestinya Anda tak memberinya uang, tapi memberinya pengertian bahwa hidup itu harus survive, harus berjuang!” kata yang duduk di sebelah supir yang punya mobil. “Orang seperti itu, tak punya tanggungjawab terhadap anak-anaknya. Apa mungkin ia sanggup membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup anaknya secara layak?” sambung yang punya mobil. Aku meresapi pernyataan mereka. Aku sadari, di mobil ini, hanya aku sendiri versus 5 penumpang plus 1 pemberi tumpangan. “Apa alasan Anda, memberikan uang kepada pengemis itu? Dia itu bukan ngamen, tapi ngemis!” yang paling terakhir rada membentakku.

Aku nyatakan, “Saya tak punya alasan untuk memberi secengan padanya. Lagi pula, selama ini saya pikir tak perlu sebuah alasan untuk memberi. Realitasnya adalah, ia meminta, saya memberi. Itu saja! Ngapain repot-repot cari alasan.”

“Tapi Anda sadar, dengan uang yang anda berikan, orang itu akan terus miskin, malas, benalu!” sambut salah satu penumpang yang duduk paling depan di sebelah supir yang punya mobil.

“Buat saya, uang seribu tadi, tidak akan membuatnya miskin. Itu uang halal, bukan hasil korupsi atau hasil nilep pajak. Lagipula, dalam pandangan saya, pak tua itu bukan pemalas. Kalau ia malas, pasti ia sedang asyik tidur di kolong jembatan saat panas terik di tengah hari ini. Orang-orang seperti pak tua pengamen itu, bukan benalu. Mereka hidup dalam kemiskinan.”

“Mereka miskin karena malas, tak mau berubah!” sambung yang duduk di belakangku.

“Saya yakin, miskin itu bukan pilihan mereka. Tidak ada orang yang mau hidup dalam kemiskinan terus menerus, tujuh turunan, tujuh tanjakan, tujuh tikungan. Semua orang pasti ingin kaya. Tapi, maaf bapak-bapak sekalian…. kenyataanya, tak ada orang yang benar-benar mau memahami kemiskinan mereka. Apalagi merasakan kemiskinan mereka. Maaf, pak…. Saya tak berniat memiskinkan mereka karena seribuan yang saya berikan. Lagipula, sepanjang jalan tadi bapak-bapak pernah mengatakan, ingin menjadi orang kaya agar bisa membantu orang lain. Pak,… untuk berbuat baik, saya pikir tak perlu menunggu kaya. Faktanya, belum kaya saja, Anda begitu bangga memandang rendah profesi orang lain. Boro-boro peduli…. Maaf, pak. Kalau seribuan yang saya berikan ke pak tua tadi, akan membuatnya malas, bagaimana dengan Bapak trainer… maaf loh pak… Saya hanya memberikan seribu perak. Tapi bapak telah memberikan tumpangan dari Bandung ke Jakarta, gratis. Apakah itu tidak termasuk memalaskan kami dan memiskinkan kami yang menumpang?”

Begitulah. Kekayaan, walau sebatas impian, dapat membius orang mabuk dalam khayal. Kekayaan yang tak membius pemiliknya adalah  20% harta, 80% jiwa.

Advertisements
Posted in: Kontradiksi