Murid Ibarat Gelas

Posted on 1 May 2009 by

5


Seorang pemuda mengunjungi Kyai Kampung. Ia menyampaikan niatnya mencari kedamaian bathin. Dalam perbincangan di teras beralas tikar pandan, pada malam ketika bulan purnama menerangi ladang, ketika semilir angin menciptakan tarian alang-alang, pemuda itu mengisahkan pengalamannya mencari kebenaran.

Ia pernah memasuki beberapa aliran keagamaan, dari yang dituding ahli bid’ah, hingga yang merasa paling nyunnah. Tapi dahaganya ketentraman spiritual tak didapatkan. Iapun pernah mengikuti beberapa pergerakan, dari yang fundamentalis hingga yang moderat. Iapun pernah gandrung membaca buku-buku beraroma sufistik hingga buku-buku silat macam Wiro Sableng Pendekar Sakti Kapak 212. Pengembaraannya sempat hanyut dalam buaian keyakinan tentang kesucian Ahlul Bayt, komunitas Habaaib, hingga kini ia mencoba menyerap kemurnian tasawuf dari beberapa kali pengajian sufi. Namun pada kembara terakhir ini, iapun merasa tak merasakan sakralitas spiritual.

Pada sang Kyai Kampung, ia mengutarakan kegelisahannya, “Saya sudah lelah hidup sebagai hamba, sebagai ummat, bahkan sebagai yang diikuti… Bagaimana menurut Kyai?”

Kyai Kampung menyulut sebatang rokok kretek yang perusahaannya berusia lebih tua dari sang pemuda. Setelah menyembulkan asap dari hisapan pertama, Kyai mengambil sebuah gelas beling bening yang berdiri anggun di atas nampan kayu, berjejer dengan sesama gelas lainnya. Kyai menuangkan air bening dari sebuah kendi. Melihat kucuran airnya, siapa yang sanggup menahan diri untuk tak meminumnnya. Air kendi tak tertandingin dingin dan sejuknya. Mengalahkan air simpanan dalam botol bekas limun yang didinginkan di kulkas berharga jutaan rupiah.

Kyai meletakkan gelas yang dipenuhi air kendi itu di hadapan sang pemuda. “Ini buat saya, Kyai?” Yang ditanya mengangguk tersenyum. Yang bertanya meminumnya hingga tersisa sedikit air di dasar gelas saja.

Kyai Kampung kembali mengangkat kendi, mengucurkan air dari paruh kendi ke dalam gelas sang pemuda, sambil berkata, “Kalau gelas ini kosong, air baru mudah terisi kembali.”

“Ya, Kyai, saya masih kuat untuk meminumnya. Airnya sejuk, menyegarkan badan saya.”

Paruh kendi masih di atas bibir gelas. Kyai meluberkan gelas tersebut, “Tapi kalau gelas ini selalu penuh, air baru akan bercampur dengan air lama, kemudian terbuang percuma.”

Teras di depan rumah Kyai banjir karena limpahan air dari gelas yang diluberkan tak henti. Sang pemuda beringsut, berdiri menghindari air yang dapat membasahkan celananya.

“Anak muda. Jika kamu ingin menjadi murid, maka buanglah dulu apa yang ada di dalam pikiranmu. Kosongkan gelas hatimu, agar ilmu yang Allah kucurkan melalui gurumu, dapat kamu serap, menguras pikiranmu dari lumut kepongahan, mencuci jiwamu dari amarah. Jika kamu enggan mengosongkan gelasmu, kamu lihat sendiri akibatnya, banjir yang merepotkan banyak orang, yang kamu sendiri mengharapkan keselamatan.”

Sang pemuda masih berdiri, tatapan matanya perlahan mengarah pada gelas yang luber, teras yang banjir, dan mata Kyai yang sedari tadi menatapnya.

Mata mereka saling pandang. Menciptakan garis lurus tak berpenampakan. Dalam sorotan mata penuh cinta, sang Kyai membalikkan gelas yang penuh tadi dengan tangan kirinya. Tangan kanannya masih menggenggam kendi dan mengucurkan airnya, “Alhamdulillah, pengalamanmu baru membentukmu menjadi gelas yang penuh, yang masih bisa dikosongkan dengan penyadaran. Tak terbayangkan jika kamu bagaikan gelas terbalik ini…. tak setetespun air bisa mengisinya!” Lantas tangan kiri Kyai melempar gelas tersebut ke sebuah pohon besar di depan teras rumahnya. “PRANG!!!!” gelas itu pecah menjadi sejumput pecahan beling tak berguna, bahkan berbahaya. “Gelas seperti itu, lebih baik dibuang saja! Tak ada satupun guru yang sanggup mencurahkan air ke dalamnya. Sia-sia saja waktu yang dihabiskan untuk melayaninya. Karena itu, anak muda… jika kamu mau menjadi murid, kosongkan dulu gelasmu. Kembali kepada gurumu hingga kamu menemukan mursyidmu! Ialah yang akan membimbingmu, mengosongkan gelasmu. Kembalilah!”

MT @ bantaran kali ciliwung, 2009

Advertisements
Tagged: , ,
Posted in: Catatan Lepas