Kisah Laluku dengan Buku

Posted on 11 May 2009 by

16


Bolehlah aku mengatakan, buku begitu berarti buatku. Kisah laluku, tak lepas dari buku, walau kebiasaanku membaca tak sehebat para kutu buku. Aku hanya membaca ketika kumau dan waktuku tak terganggu dengan tanggung jawab lainku.

Waktu aku dalam kisaran usia Sekolah Dasar, komik adalah teman lainku. Jika aku diajak orang tua berkunjung ke rumah kakek, pasti yang kuincar adalah kamar pamanku. Di kamar itu, beragam komik tersedia, mulai komik jenaka hingga komik serius. Kepuasanku dengan komik tercapai ketika bersama adikku sanggup membuka lapak penyewaan komik untuk teman sebaya. Uang hasil sewaan, kubelanjakan untuk memperbarui koleksi. Komik yang paling berkesan buatku adalah Cerita Silat yang pendekarnya dua orang bocah keponakan Jaka Sembung, yaitu Kinong dan Kataran. Komik itu karangan Djair.

Dari komik, aku mulai beranjak ke buku “kaya teks miskin gambar”, seperti legenda-legenda khas nusantara dan cerita/dongeng dari Majalah Anak-Anak. Novel karya Enid Blyton. “Lima Sekawan” sempat menjadi favoritku, walaupun aku tak pernah membelinya. Kebetulan teman-teman SD-ku baik hati meminjamkan koleksinya. Satu-satunya novel/buku cerita yang kumiliki adalah “Emil Und Die Detektive” karangan Erich Kastners. Buku itu “kucuri” dari rumah pamanku yang berkebangsaan Jerman, saat berkunjung ke rumahnya.

Ia hanya tersenyum ketika mengetahui aku mencuri bukunya. Saat itu, bocah SD sepertiku menganggap senyumnya adalah permaafan dan penyerahan bukunya untukku. Tapi setelah remaja, aku geli jika mengingat senyum Mr. Jack ketika kubuka-buka kembali buku tersebut. Aku baru berpikir, mungkin dia tersenyum karena aku amat menyukai buku tersebut walaupun tak mengerti bahasanya. Ya, buku itu asli terbitan sana, berbahasa Jerman.

Saat SMP aku agak kurang membaca buku. Saat itu kondisi keuangan orang tua, tak memungkinkanku memiliki buku, tak terkecuali buku pelajaran. Untung sekolahku (SMPN 213 Malaka) memiliki perpustakaan yang cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan pelajaran dan buku-buku cerita yang tak satupun menjadi favoritku. Yang lebih kusuka saat itu adalah cerita yang menjadi bagian dari Majalah Remaja, seperti HAI. Sejak SMP itulah, aku mengenal perpustakaan dan menjadi rajin ke perpustakaan saat istirahat. Ah, aku agak berbohong!

Sebenarnya yang membuatku rajin ke perpustakaan saat itu bukan karena buku! Tapi karena 2 hal. Pertama adalah, aku tak punya uang untuk jajan. Yang kedua, dan ini yang paling melecut semangatku untuk ke perpustakaan, adalah karena perempuan yang kutaksir, rajin ke perpustakaan. Jadi aku amat bahagia, jika bisa sekedar menatapnya waktu sama-sama duduk di ruang baca. She is my first love! πŸ™‚

Itulah kisah antara aku dengan buku, sejak kecil hingga ABG. Anda punya cerita spesial tentang buku ketika SD dan SMP? Share dong!

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas