Sedikit Teman

Posted on 19 May 2009 by

7


involved (c) MT

involved (c) MT

Xenia temanku, parkir di halaman pondok pesantren tempat aku berdomisili kini. Satu per satu penumpangnya keluar dan menyalamiku, memelukku, dan mengadu pipi. Mereka amat merindukanku. Sejak Desember 2008 aku menghilang dari pertemanan dengan mereka.

Kepindahanku dari Anyer ke Bogor, memang menuai banyak komentar. Kebanyakan dari komentarnya adalah menganggapku nekad, naif, bahkan amat tidak masuk akal. Menurut mereka, aku meninggalkan kenyamanan hidup di Anyer dengan mendatangi kenestapaan di pesantren yang sebagian besar santrinya adalah yatim piatu, dhuafa, bahkan ada juga anak-anak dibuang orang tuanya yang masih hidup tapi enggan bertanggungjawab. Menurut beberapa temanku, amat aneh, jika aku mau menerima penghasilan keluarga yang 1/3 lebih kecil dibandingkan tempat sebelumnya. Yach, kita memang tak bisa merdeka dari anggapan orang lain. Jadi, kubiarkan saja dugaan teman-teman yang begitu, karena ada juga koq teman-teman yang mengerti tentang keputusanku begini.

Teman-temanku yang mengendarai Xenia ini datang untuk mengajakku berbisnis bersama mereka. Menggapai impian-impian tentang kekayaan dan kemanfaatan hidup. Salah seorang dari mereka bilang, “Kondisi pesantren seperti ini, mestinya menjadi inspirasi bagi Anda untuk secepatnya kaya!” Yang lain menambahkan, “Kalau Anda cepat kaya, anda lebih mudah menolong!”

Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku saja. Aku bukan orang yang doyan berdebat. Aku lebih cenderung membiarkan teman-temanku asyik membeberkan jati dirinya. Baru, ketika mereka kehabisan kata, aku bertanya, “Apakah untuk menolong orang lain, harus menunggu sampai kaya dahulu? Apakah keterbatasan finansial membuat kita enggan menolong?” Mereka menjawab tanyaku dengan anggukan juga.

Bagi beberapa orang temanku, uang adalah segalanya. Kesejahteraan terwakili dalam sebentuk uang. Kenyamanan adalah jika punya banyak uang tersisa. Kedermawanan baru bisa dilakukan jika punya uang berlimpah. Memang tak kupungkiri, uang memang barang penting. Semua orang butuh uang. Tapi, miskin dan kaya, sebenarnya bukan hanya soal uang belaka. Ah, ini ulasan klasik dan bisa jadi klise!

Aku sampaikan pada teman-temanku yang malam ini bertamu. Aku menjalani hari-hari dengan orang-orang yang bersikap apa adanya. Aku memilih hidup bersama mereka, karena mereka menganggapku bagian dari kehidupan mereka, bukan sebagai pekerja, bukan sebagai downline, bukan sebagai konsultan, tapi sebagai keluarga. Aku telah mendapatkan apa yang belum mereka dapatkan: ketulusan.

Tapi memang sulit sekali memberikan pengertian kepada teman yang telah berubah mindset. Bagi mereka, ketulusan tak perlu diperbincangkan. Asal setiap orang tidak menjadi beban bagi yang lain, maka hubungannyapun akan menjadi tulus. “Apakah ada orang yang selama hidupnya mau dibebani orang lain? Tak mungkin ada!” Kata seorang temanku yang malam ini bertamu.

Ada benarnya juga kata temanku itu. Bukannya tak ada, tapi mungkin hanya sedikit orang yang selama hidupnya mau menanggung beban derita orang lain. Hanya sedikit! Dan aku menemukan orang-orang yang tulus itu, yang sedikit itu, dalam pertemananku. Terutama di sini.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas