Makan Karena Lapar

Posted on 22 May 2009 by

16


Dulu, temanku pernah kepingin seperti tetangganya yang sering makan di restoran. Ia membayangkan makanan yang kelihatan enak dan memuaskan. Akupun mengajaknya makan di restoran yang ia inginkan. Kutanya padanya setelah gagal menghabisi porsinya dan membungkus sisanya, “Gimana, enak?” Ia bilang kenyang. Kutanya lagi, “Gimana rasanya makan seperti ini?” Ia juga bilang kenyang. Kutanya lagi, “Perasaanmu gimana sekarang?” Ia bilang puas karena bisa makan seperti tetangga yang telah menginspirasinya.

Makan karena lapar amat berbeda rasanya dengan makan ketika nafsu. Ketika kita sedang merasakan lapar, bahkan teramat lapar, akan terasa nikmatnya walaupun hanya makan nasi dingin dan taburan garam atau terasi bakar. Begitupun sebaliknya, jika kita makan dalam keadaan tidak lapar, tak akan terasa nikmat, hanya akan terasa kenyang. Apalagi jika kita makan karena nafsu, bisa jadi kita merasakan kenikmatan semu. Kenapa saya anggap kenikmatan semu? Karena selain kenyang, makan karena nafsu hanya akan menimbulkan kepuasan, bukan kenikmatan.

Jika kita melakukan sesuatu hanya karena ingin mengikuti apa yang dilakukan orang lain, bisa jadi itu adalah luapan nafsu, bukan karena butuh. Padahal apa yang dilakukan orang lain itu adalah kebutuhannya, yang memang berbeda kelas dengan kita. Begitulah nafsu, tak melihat kelas.

Tentu berbeda, kebutuhan orang yang bergaji di atas limajuta per bulan, dengan yang bergaji sejuta apalagi yang di bawah UMR. Secara materialistik, yang bergaji sejuta akan sulit menyamai kebutuhan kelas di atasnya. Dan akan sangat tersiksa jika ia memaksakan diri untuk bisa sama. Dampaknya jika tak berhasil memaksakan diri, akan menimbulkan kedengkian sehingga mudah mencurigai orang yang mendapatkan sesuatu yang lebih besar darinya.

Jika kita menginsyafi perbedaan gaji tersebut secara spiritual, bisa jadi kenikmatannya sama saja. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual akan menginsyafi perbedaan rejeki biasa saja. Ia terbebas dari belenggu nafsu. Penghasilannya, walau berbeda nominal, tetap akan memiliki value yang sama, memiliki kenikmatan dan kemanfaatan yang sama. Ia menyadari, perbedaan nominal berbanding lurus dengan perbedaan kebutuhan.

Seperti tulisan saya sebelumnya tentang attitude Tukang Gorengan . Ia menjalani kehidupan apa adanya. Memenuhi kebutuhan berdasarkan penghasilan, bukan atas dasar nafsu. Ia sanggup memerdekakan diri dari belenggu nafsu yang menyiksa dan menjengkelkan.

Pemahaman tentang nafsu, lapar, nikmat, dan puas, juga berlaku dalam segala aspek kehidupan. Bukan hanya dalam soal makan saja. Jangan merasa hanya orang lain saja yang diberikan rejeki oleh Tuhan, sehingga sepeserpun yang kita dapat, kita dustakan. Jangan hanya merasa orang lain saja yang disayang Tuhan, sehingga kasih sayang-Nya selalu kita dustai.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas