Tak Kulihat Betawi di Jakarta

Posted on 12 June 2009 by

21


topeng betawi

topeng betawi

Jakarta adalah wilayah yang sempit dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Luas Sempit wilayahnya hanya 740,28 km2. Namun dibalik kecilnya kota Jakarta, terdapat keragaman budaya.Β  Kita bisa berkenalan dengan berbagai kebudayaan nusantara maupun dunia di kota ini. Karena itu cukup pantas jika Jakarta dijuluki sebagai Kota Lintas Budaya.

Kebudayaan awal yang berkembang di Jakarta adalah kebudayaan Melayu. Kulturalisasi itu dimulai pada Abad ke-6 Masehi, saat Kerajaan Sriwijaya menyerang pusat kerajaan Tarumanegara di Utara Jakarta. Masyarakat Jakarta saat itu yang lebih dominan berbudaya Sunda mulai mengalami persilangan budaya dengan Melayu.

Pada 1512 Raja Surawisesa (Kerajaan Sunda) mengizinkan Portugis untuk membentuk komunitas di Sunda Kelapa. Sejak itu, perkawinan dengan budaya Portugis dimulai. Keroncong adalah salah satu bentuk kebudayaan Portugis yang menjadi kebudayaan orang Jakarta.

Kebudayaan lain yang juga melintas dalam sejarah Jakarta adalah Gujarat, Malabar (India) Tionghoa, Campa, Persia, Arab, Malaka, Bugis, Bali, Sumbawa, Ambon, Banda, dan kebudayaan Nusantara lainnya. Bahkan pada era kolonialisme Belanda, kebudayaan Eropa turut memperkaya khasanah dan perkawinan budaya Jakarta. Dari persilangan beragam budaya itulah, kebudayaan Jakarta – yang sejak pada tahun 1923 baru dikenal dengan sebutan Betawi setelah M. Husni Thamrin membentuk Perkoempoelan Kaoem Betawi – terbentuk.

Makin berkembang zaman, makin berkembang pulalah kebudayaan Jakarta. Melihat Jakarta sekarang, seperti kita melihat budaya metropolis. Akupun akhirnya merenungkan, seperti apakah sebenarnya jati diri orang Jakarta? Dimanakah bisa kita lihat lagi, kebudayaan Betawi, yang terbentuk dari keragaman persilangan budaya?

Ketika aku ke Jogjakarta, budaya Jawa begitu terlihat di beberapa titik kota. Ketika aku ke Bali, jelas pula kunikmati budayanya. Masyarakat di kota-kota yang kukunjungi, hidup dengan kebudayaannya sehari-hari. Namun “view“seperti itu tak kulihat di Jakarta. Tak kulihat Betawi di Jakarta. Ataukah memang Betawi telah berubah semakin molek dengan beragam kultur yang masuk setiap detik? Atau, Kaoem Betawi terpinggirkan karena tak mendapatkan tempat di hati generasi muda Jakarta?

Kurenungkan hal ini, saat Jakarta berusia 482 tahun. Semoga budaya Betawi tak terhimpit, tergilas, dan terkubur, oleh deru bising ragam budaya metropolitan.

Advertisements
Posted in: Dirgahayu