Menelusuri Jejak Walisongo (1)

Posted on 30 June 2009 by

16


Beberapa temanku sms/imel, kesimpulannya seperti ini, “kapan catatan ekspedisi walisongo yang aku ikuti sejak 25-31 Mei 2009 bisa dibaca?” Aku jelaskan pada mereka, catatan tersebut masih dalam fase drafting. Amat belum layak dipublish. Ada 1-2 orang yang protes. Mereka bilang, “masa sih gak layak publish.”  Tak kujelaskan secara rinci mengapa aku begitu lama menuliskannya. Tapi beberapa teman yang membaca puisi yang kuposting kemarin, bisa memahaminya.

Alhamdulillah, beberapa temanku merasa terhibur setelah aku meminta mereka melihat blog temanku, Pengelana Semesta, yang juga bareng denganku dalam ekspedisi itu. Catatan Perjalanan PS adalah jawaban atas kepenasaran mereka.

Lalu bagaimana dengan progresku? Hingga hari ini masih belum tuntas. Ketika PS sudah menulis sampai Muria, aku baru selesai menulis tentang perhentian kami di Cirebon. Ketika PS menuntaskan hingga ke Ampel-Surabaya, aku baru berhasil menulis tentang Demak.

Tapi sebelum berangkat ekspedisi, pada 25 Mei 2009 lalu aku sempat menuliskan catatan awal Perjalanan Tim kami di facebook. Bolehlah dibaca-baca sekedar informasi, kenapa, untuk apa kami melakukan ekspedisi dan siapa saja yang ikutan. Selamat membaca!

1. BERMULA DARI JANJI
catatan perjalanan menelusuri jejak walisongo

Lazimnya sebuah perjalanan mestilah dimulai dengan merencanakan tujuan. Begitupun dengan perjalanan kami ke makam para walisongo (melintasi Jalur Utara Jawa, menepi di tanggul Lumpur Lapindo, menyambangi kampung muslim di Bali, dan melintasi Jalur Selatan Jawa). Namun kami berdelapan tak memiliki tujuan utama kecuali menepati janji yang telah lama tertunda.

Sejak sepuluh tahun yang lalu kami ingin melakukan perjalanan ini, namun kesempatan itu selalu kalah oleh berbagai hambatan. Sudah dua kali kami berangkat menepati nadzar ini, namun kedua perjalanan itu terpenggal setengah jalan. Ini adalah kesempatan ketiga bagi kami, dan kami menyepakati sebagai kesempatan terakhir untuk menepati janji. Kami memulai dengan menyebut asma Allah, meresapi energi Al-Fatihah, menyertakan shalawat atas nabi Muhammad SAW, beristighfar, menyerahkan diri sepenuhnya dan memohon keselamatan hanya pada Allah SWT.

Ekspedisi bukan sekedar perjalanan menapaki jejak perjuangan walisongo. Bukan pula plesiran menyinggahi berbagai lokasi yang memiliki obyek wisata kuliner. Bukan perburuan cinderamata di lokasi yang kami singgahi. Perjalanan ini – kami harapkan -memberikan spiritual insight, dalam menapaki hari-hari kami selanjutnya.

Ketika pendaran langit senja bergerak perlahan menggelapkan hari. Setelah menyelesaikan shalat maghrib, kami menenangkan bathin untuk memulai perjalanan ini. Kami berangkat dari Kampus 1 Pondok Pesantren Daarul Uluum di Bantarkemang, Bogor. Bergerak tujuh kilometer menuju Kampus 2 di desa Nagrak, Sukaraja.

Merapat bersama menyatukan hati. Mengingatkan kembali bahwa perjalanan ini adalah upaya menepati janji, memenuhi nadzar agar titian hari esok menjadi lancar.

Di teras rumah kyai, kami menyepakati berbagai hal yang mesti dipatuhi oleh kedelapan peserta. Kyai Nasrudin – Kyai Kampung – kami sepakati sebagai pimpinan ziarah. Apapun yang beliau putuskan, enak atau tidak, pahit atau manis, setuju atau tidak, harus dipatuhi oleh semua peserta. Kyai Haji Abdul Rozak mendampingi Kyai Nasrudin sebagai wakilnya. Ialah yang nanti akan memimpin doa di makam para wali. Iqbal “Pengelana Semesta” Harafa, menjadi bendahara tim. Ia yang menyimpan dana, yang sebagian merupakan donasi dari Kang Haji Rahmani, seorang petani yang mendedikasikan hidupnya untuk pesantren. Kang Haji, juga menyediakan Phanter-nya sebagai kendaraan pertama. Mobil kedua dibawa dari Jakarta oleh Om Somad. Terios yang dipinjamnya dari sang mertua. Ia adalah ahli otomotif yang telah lama terpaut dengan kebersamaan di pesantren ini. Jam terbangnya melintasi jalur utara pulau Jawa membuatnya terpilih sebagai driver utama. Fauzi “Ozzy” Ba’ats menyiapkan susu kambing yang baru saja direbus untuk Om Somad. Sebagai energy drink di malam pertama perjalanan ini. Ozzy adalah peserta yang paling berharap perjalanan ini tak lagi gagal. Ia telah lama merencanakan perjalanan ini bersama Iqbal, Faruq “alux” Azizi,  seorang ustadz yang juga gitaris sebuah grup band dan aku sendiri, Mataharitimoer. Kami berencana dan Tuhanpun berencana.

Benar sekali kalimat terakhir pada paragraf di atas. Begitu kami siap berangkat, rencana Tuhanpun mulai tampak, di luar rencana kami. Seorang teman Kang Haji dan Kyai Nasrudin, datang dan memaksakan diri ikut dalam rombongan kami. Sebagian besar peserta menolaknya dengan menjelaskan bahwa perjalanan kami bukan 2-3 hari, tapi bisa melampaui 5 hari. Tapi orang tua pensiunan polisi berpangkat Kopral itu tetap merayu sang Kyai dan Kang Haji. Kami tak bisa menolak lagi ketika pimpinan kami mengijinkan Kopral tua itu ikut dalam tim ini dengan syarat mendapatkan ijin dari istrinya. Setelah kembali pulang memohon ijin dari sang istri, iapun memasuki mobil kami dengan senyum lebar yang dapat meruntuhkan wajah garangnya karena giginya yang ompong. Akhirnya kami semua menerima kesertaannya dengan keyakinan bahwa inilah rencana Tuhan dan “Kopral Menthok” ini – demikian sapaan akrabnya –  akan bermanfaat bagi kelancaran perjalanan kami.

Bismillahirrahmaanirrahiim, langkah kanan!

Advertisements