Menelusuri Jejak Walisongo (2)

Posted on 2 July 2009 by

10


Ini catatan lanjutan dalam Ekspedisi Walisongo. Sumber tentang sejarah Sang Kyai disupport oleh Pengelana Semesta. Selamat menyerap inspirasi!

Warisan Tradisi Spiritual

Makam Mu’allim Elon Syuja’i |Bantarkemang, Bogor

makam kh. elon syuja'i (c) MT

makam kh. elon syuja'i (c) MT

Kami memulai perjalanan ini dengan ziarah ke makam KH. “Mu’allim” Elon Syuja’i. Beliau adalah tokoh ulama kharismatik di Bogor, yang merintis dan membangun cikal bakal pondok pesantren Daarul Uluum yang amat mempengaruhi hidup kami. Pergulatan hidupnya sejak zaman pra kemerdekaan RI merupakan inspirasi bagi kami. Dialah guru, ayah, kakek, dan pejuang yang mewariskan pesantren yang sederhana pada kami.

Mengapa kami harus mengawali perjalanan Jejak Walisongo ini dengan seolah-olah memohon izin dari penghulu kami ini?

Mamak Elon,- begitu kami memanggilnya -mewariskan tradisi spiritual ziarah Walisongo kepada kami. Walisongo adalah inspirasi baginya dalam memperjuangkan dakwah Islam di Nusantara. Gerakan dakwah Walisongo mengandung banyak aspek kehidupan untuk dihikmahi. Mulai dari strategi politik, ekonomi, seni budaya, ritual, spiritual, bahkan kaderisasi dan regenerasi. Walisongo di mata Mamak Elon bukanlah tokoh legenda mistis, yang runyam dengan dongeng dan keajaiban. Walisongo – yang digagas oleh Sunan Ampel – adalah pelanjut estafeta dakwah para nabi yang mesti diwarisi spiritnya.

Spirit Walisongo membentuk pribadi Mu’allim Elon. Tahun 1912 Beliau dilahirkan dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang terbiasa hidup dalam kegelapan. Bantarkemang, kampung tempatnya dilahirkan adalah wilayah hitam yang terkenal dengan kriminalitas, ilmu hitam, alkohol, judi, dan prostitusi. Sendi-sendi kehidupan dikuasai oleh para jawara. Tokoh jawara yang paling ditakuti karena kharisma dan ilmu hitamnya adalah Empu Uning, yang adalah kakek Mu’allim Elon Syujai.

Ternyata sejarah kampung Bantarkemang, di Bogor menggariskan pertentangan antara kakek dan cucu. Pertentangan antara dunia hitam dengan dunia putih, atmosfir jawara dengan atmosfir santri. Hingga akhirnya Bantarkemang berubah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam di Bogor.

Kecenderungan religius membimbing Mamak Elon menapak jalan keulamaan hingga akhir hayatnya.  Beliau mengeyam pendidikan keagamaannya pertama kali dari Ajengan Baihaqi, seorang ulama di Leuwinanggung, Bogor. Selesai berguru dari sang Ajengan, beliau melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Kadukaweng, Banten selama 4 tahun. Masa mudanya diisi dengan menuntut ilmu. Selesai di Banten, ia masuk ke Sekolah Rakyat. Oleh karenanya, selain memiliki pengetahuan keagamaan, khususnya khazanah kitab-kitab salafi, Elon Syuja’i pun memiliki kemampuan membaca dan menulis latin. Sedikit kemampuan berbahasa Belanda pun ia peroleh di sekolah ini.

Setelah menamatkan pendidikan formal tingkat Sekolah Rakyat, Elon Syuja’i memperdalam lagi pengetahuan agamanya di Pondok Pesantren Gunung Puyuh, Sukabumi, yang dipimpin oleh Ajengan Sanusi. Beberapa tahun kemudian, beliau berangkat lagi untuk berguru ke Ajengan Sathibi di Gentur, Sukabumi. Melihat potensi besar yang dimiliki serta semangat belajarnya yang tinggi, Ajengan Sathibi kemudian mendorong Elon Syuja’i untuk memperdalam ilmunya ke pesantren-pesantren di wilayah Garut dan Tasikmalaya.

Di kedua kota inilah kemudian Elon Syuja’i bersahabat dengan ulama-ulama besar Jawa Barat, yang di kemudian hari menjadi tokoh-tokoh ulama dan politik, seperti KH Khoir Afandi (Pemimpin Pondok Pesantren Miftahul Huda, Tasikmalaya), KH Gunung Puyuh (Sukabumi), KH Nur Ali (Pemimpin Pondok Pesantren At-Taqwa, Bekasi), KH Soleh Iskandar (Bogor), Kyai Profesor Abdullah M. Nuh, dan lainnya. Mereka tergabung dalam Majelis Ulama Jawa Barat, sebelum lahirnya MUI.

Pada periode ini, Elon Syuja’i mulai bersentuhan dengan spirit ideologis, ide-ide pergerakan, pemberdayaan, dan pembaharuan masyarakat.

Persentuhannya dengan Masyumi, ternyata memberi warna tersendiri dalam perjalanan hidup Mamak Elon. Masyumi adalah organisasi politik Islam yang dinilai radikal oleh pemerintah saat itu, baik pemerintah Orde Lama di bawah Soekarno, maupun pemerintah Orde Baru di bawah Soeharto.

Secara politik, Masyumi dinilai sebagai lawan pemerintah. Catatan keterlibatannya dalam organisasi politik ini menyebabkan dirinya turut diposisikan sebagai ancaman terhadap pemerintahan. Elon Syuja’i dinilai sebagai ulama yang turut mendukung ide penggantian asas negara dari Pancasila menjadi Islam. Penilaian-penilaian semacam itu sempat menyebabkan dirinya dipenjara selama 2 tahun di penghujung kekuasaan Soekarno tanpa menjalani proses pengadilan.

Sikap rezim Soeharto yang ternyata lebih represif terhadap kelompok muslim radikal, mengharuskan Elon Syuja’i mengambil pendekatan baru dalam mengelola hubungannya dengan pemerintah. Hal itu harus dilakukan agar komunitas pesantren yang dipimpinnya tidak berbenturan dengan kepentingan penguasa. Terlebih lagi saat Soeharto menggulirkan kebijakan asas tunggal. Melalui kebijakan itu, seluruh organisasi, apapun juga, diwajibkan untuk menjadikan Pancasila sebagai asasnya.

Sejak digulirkannya kebijakan asas tunggal tersebut, Elon Syuja’i, mulai menerapkan strategi politik yang disebutnya “nyumput di nu caang”, yang berarti “sembunyi di tempat yang terang. Filosofi politik itu seperti yang dilakukan oleh Sunan Ampel dengan Gerakan Walisongonya.

Strategi politik yang diterapkannya ini terbukti bisa menciptakan hubungan yang sangat baik antara Elon Syuja’i dengan pemerintah, baik di tingkat kota, propinsi, bahkan sampai di tingkat pusat. Para pejabat pemerintah Orde Baru silih berganti datang berkunjung, bertukarpikiran, dan meminta nasihat-nasihatnya. Gambaran bagaimana kedekatan KH Elon Syuja’i dengan para pejabat Orde Baru dapat dilihat pada saat dengan mudahnya ia mengundang Adam Malik, Wakil Presiden RI, untuk hadir di pesantrennya dan meresmikan masjid yang baru selesai dibangun.

Satu hal yang patut dicatat adalah bahwa KH Elon Syuja’i tidak pernah bersikap aji mumpung dengan memanfaatkan kedekatannya dengan para penguasa untuk meminta-minta aneka macam bantuan. KH. Elon Syuja’i tidak pernah menolak jika memang pemerintah ingin membatu pesantrennya selama tidak ada syarat apapun. Namun, ia tidak pernah memanfaatkan hal itu untuk mengeruk dana.

Lebih dari pada itu, KH Elon Syuja’i tetaplah seorang ulama yang hidupnya sangat sederhana. Begitu sederhananya, sampai-sampai, seluruh lokal bangunan pesantren penuh diisi dan ditinggali oleh para santri. Beliau hanya menyisakan sepetak kamar seluas 4×3 meter persegi sebagai tempat tinggalnya. Siapapun bisa datang bertemu dengannya kapanpun dan jam berapapun juga, tanpa harus membuat berjanji lebih dahulu.

KH Elon Syuja’i dipanggil Allah SWT pada tanggal 5 April 1990 di tengah-tengah santrinya dan dimakamkan di pemakaman umum Bantarkemang, Bogor. Jenazahnya diusung dan dioper dari tangan ke tangan oleh ribuan warga, mulai dari masjid, tempat jasad beliau dishalatkan, sampai ke pemakaman. Ribuan warga berbaris rapih secara berhadap-hadapan sepanjang 1 kilometer menanti operan jenazah.

Beliau meninggalkan kami dengan mewariskan tanggung jawab sejarah, melanjutkan perjuangan pesantren yang merupakan hayatnya, bagian kehidupannya. Kini pesantren itu menjadi hayat kami. Dan sebagaimana yang pernah beliau lakukan dulu, kamipun melakukan ziarah ke makam Walisongo. Memohon kepada Allah agar mendapatkan wasilah dari orang-orang pilihan Tuhan. Mengambil hikmah dari perjuangan para wali dalam mendidik dan membangun masyarakatnya.

Dari makam Sang Mu’allim kami memulai ekspedisi ini. (MT)

Advertisements