Internet Mengubah Duniaku

Posted on 6 July 2009 by

19


Setelah beberapa kali mendapatkan surat balasan dari Koran harian nasional yang menolak tulisanku, aku mulai berpikir, bisa jadi tulisanku tak pantas buat media cetak. Apalagi dengan latar belakang yang tak dikenal khalayak. Sejak itulah aku berhenti mengirimkan tulisanku ke koran ataupun majalah, sampai suatu saat, trend internet mulai menarik perhatianku.

Tahun 2003 aku mulai kenal internet. Saat itu, di sebuah warnet nan “lemot” di Bekasi Timur. Kutemukan sebuah website kumpulan cerita Indonesia, www.sarikata.com dari menu favorite browser. Aku memberanikan diri menjadi anggotanya. Waduh, harus punya e-mail! Akupun membuat e-mail dadakan walau akhirnya jarang terpakai. Yang penting bisa daftar dan bisa mengirimkan tulisanku pada website tersebut. Pada 7 Agustus 2003, kukirimkan tulisan pertamaku di website itu. Sebuah puisi berjudul “Kenyataannya”

Esok hari, kubuka lagi website tersebut, tulisanku sudah di-publish. Betapa senangnya melihat tulisan pertamaku diterima di internet. Satu tulisan di-publish, beberapa tulisan kukirim lagi, semuanya di-publish. Aku berkata sendiri, “Inilah saatnya! Inilah media yang tepat untukku! Internet!” Hingga kini aku tak bisa menghilangkan rasa terima kasihku kepada mas Yudhi Aprianto yang membuat sarikata.com. Ternyata internet bisa menerimaku apa adanya.

Sejak itu, aku semangat kembali untuk terus menulis dan belajar menulis dengan membaca karya teman-teman. Memang menulis di website, berbeda dengan di media cetak. Perbedaan yang nyata adalah, tulisan kita di media cetak pasti dibayar. Itu tak terjadi di media baca online. Tapi bagiku, itu bukan hal penting, karena yang penting adalah, tulisanku bisa diterbitkan! Aku bisa meluapkan emosiku dalam sebentuk tulisan.

Aktifitasku beranjak lebih serius dengan membuat blog. Kuakui, ini gara-gara aku sering mengunjungi beberapa blog yang saat itu baru mulai dikenal. Setelah memahami apa itu blog dari blognya Enda Nasution, yang dijuluki Bapak Blogger Indonesia, mulailah aku membuat account blog.

Kenapa Blog?

Blog tak ubahnya seperti buku catatan (diary). Apapun bebas ditulis di sana, mulai dari catatan kegiatan, kejadian yang kita alami sehari-hari, kejadian penting yang nyangkut di pikiran dan hati kita, sampai hal-hal yang tak penting sama sekali. Tak ada orang yang bisa melarang kita menulis apapun di blog, asal sesuai dengan tata krama yang disediakan oleh penyedia layanan blog.

Secara pribadi, menulis di blog bagiku sangat penting. Paling tidak ada dua manfaat yang kurasakan. Pertama adalah dari sisi psikologis. Yang aku tulis di blog adalah cerita hatiku, curhatanku, dan segala kegelisahan yang kurasakan dalam kehidupanku. Sebagai makhluk sosial, kita tak bisa acuh terhadap fenomena yang ada di sekitar kita. Apalagi jika fenomena itu melibatkan kita sendiri. Pastilah kita perlu ruang untuk melampiaskan uneg-uneg dari interaksi kita. Blog adalah sarana yang pas untuk itu.

Apalagi ketika aku menjadi karyawan, hidup dalam berbagai tekanan pekerjaan. Perasaan tertekan, baik dari atasan maupun sesama karyawan, kucurahkan di blog. Ada yang berbentuk puisi, cerita, maupun sekedar catatan lepas. Semua itu harus kulakukan agar aku fresh kembali.

Jadi, manfaat pertama yang kudapatkan dari blogging adalah sehat. Aku ngeblog, maka aku sehat! Itu yang menjadi semangatku. Hal ini terus berlanjut, hingga apabila ada satu masalah namun belum aku tuliskan pada blogku, aku merasa belum plong! Tapi setelah tertuliskan, apalagi ketika mendapatkan komentar dengan beragam perspektif, aku merasa mendapatkan banyak teman untuk mencurahkan isi hati.

Manfaat kedua yang kurasakan adalah, aku menjadikan blog sebagai inkubator. Gagasan yang kutulis pada blog, adalah tulisan-tulisan yang belum matang. Bisa dibayangkan, kita menuliskan apa adanya, bahkan seringkali spontan tatkala online, tidak didraft dulu di software pengolah kata. Bisa dipastikan tulisan tersebut belum matang. Biasanya para pembaca blog akan memberikan komentar sesuai dengan cara berpikir mereka. Komentar inilah yang sesungguhnya membuat tulisan tersebut menjadi lebih baik. Bahkan bukan sekedar format tulisannya, pemikiran kitapun akan mendapatkan tanggapan dari beragam latar belakang. Inilah manfaat yang tak kukira sebelumnya.

Sebagai sebuah lemari pengendapan naskah, blog menjadi sangatย  penting bagiku. Berbagai komentar baik positif maupun negatif, sangat berpengaruh buat pendewasaan cara berpikir dan bagaimana kita menyikapi keadaan. Pada perkembangan selanjutnya, blog – pada manfaat kedua ini – menjadi sangat penting bagi pembentukan jati diri pemiliknya.

Dari Blog Menjadi Buku

Kegagalan demi kegagalan mengharapkan tulisanku diterbitkan oleh media cetak, membuatku enggan memulai kembali keinginan menjadi penulis di media tersebut. Terlebih karena aku sudah merasa punya media yang tepat – blog – untuk meluapkan segala ekspresiku tanpa batasan dan campur tangan editor. Namun keinginan untuk mempunyai buku karangan sendiri, masih tak bisa kuenyahkan dari bathinku. Aku masih berpikir bagaimana caranya agar bukuku bisa diterbitkan.

Kumulai langkah awal, yaitu mengompilasikan beberapa catatan blogku dalam sebentuk e-book (baca : pdf). Kompilasi tersebut sengaja kuunggah (upload) agar bisa diunduh (download) gratis oleh siapapun yang tertarik untuk membacanya. Aku hanya mencetak tidak lebih dari 10 eksemplar untuk kubagikan kepada teman-temanku, dan satu buah untuk arsipku.

Februari 2005, Kumpulan catatan blogku yang pertama kuberi judul Marginal Side, yang terinspirasi dari Catatan Pinggir-nya Gunawan Muhammad di Majalah Tempo. Kubuat covernya sendiri, kujadikan salah satu tulisanku di dalamnya sebagai headline, yaitu Supertrainer dan Tukang Santet. Kenapa judul itu yang kupilih? Ini hanya pertimbangan eye-catching, agar orang-orang yang melihatnya tertarik untuk membacanya. Alhamdulillah, e-book sepanjang 212 halaman itu diunduh banyak orang.

Mendapat respon yang positif dan berbagai kalangan di Indonesia, menumbuhkan semangatku, untuk blogging setiap ada waktu. Aku mengejar target selanjutnya : Kompilasi e-book kedua. Targetku, pada di akhir tahun, yaitu bulan Desember 2006, aku harus menyelesaikan e-book kedua tersebut. Sebuah buku dalam format pdf berjudul Gimme Some Truth” yang selama ini menjadi judul blogku.

Namun sebelum target e-book kedua itu sampai, kejadian tak diduga kualami. Tiba-tiba utusan dari penerbit buku meminta waktu untuk bertemu denganku. Kamipun bertemu saat digelarnya Pesta Buku Jakarta, tahun 2006. Ia menyampaikan tanggapan positif atas tulisan pada blogku. Terutama pada e-book pertama yang sudah didownloadnya beberapa bulan yang lalu. Iapun menawarkan, apakah aku siap untuk menulis sebuah novel? Kutanyakan padanya, novel apa yang harus kubuat. Iapun menguraikan keinginan penerbitnya.

Menurutnya, ada beberapa tulisan di e-book pertamaku yang sangat dalam maknanya. Menurutnya, jika aku tidak benar-benar dalam keadaan tertekan, akan sulit membuat tulisan seperti itu. Ia mengonfirmasikan latar belakang dari beberapa tulisan di e-book itu. Iapun meyakinkanku bahwa aku sanggup menulis novel dan ia siap menjadi konsultan penulisan novelku.

Aku tak menyangka sebelumnya kalau editor dari penerbit itu dapat menerka bagaimana kondisi psikisku pada beberapa tulisan. Aku membenarkan pembeberannya tentang makna tulisanku. Lalu terjalinlah kesepakatan : Aku harus menulis sebuah novel yang akhirnya diberi judul “Jihad Terlarang“. Alhamdulillah, pada bulan Agustus 2007, novel yang diterbitkan oleh penerbit kayla pustaka itu, beredar di toko buku.

Semua ini benar-benar di luar dugaanku. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya akan ada penerbit yang tertarik untuk mengekslorasi tulisan di blogku menjadi sebentuk buku. Tapi, walaupun buku pertamaku sudah pasti akan diterbitkan, aku masih merasa bukan sebagai penulis. Bagiku blogging adalah kegiatan utamaku, sedangkan menjadi penulis, hanyalah nasib baik saja. Karena itu kulanjutkan targetku untuk menerbitkan e-book kedua.

Pada Desember 2006, sesuai rencanaku, e-book “Gimme Some Truth” setebal 298 halaman selesai kuunggah (upload). Aku merasakan kebahagiaan ketika banyak orang mengunduhnya. Hal itu makin menebalkan keyakinanku, bahwa aku adalah blogger, bukan penulis. Karena aku dibesarkan oleh media blog, oleh teman-teman sesama blogger melalui beragam komentarnya.

Namun, pada November 2008, Penerbit yang berbeda memintaku memutus link download e-book “Gimme Some Truth”. Mereka menilai, hampir sebagian dari isi e-book keduaku itu layak diterbitkan. Mereka menargetkan, Akhir 2009 harus sudah naik cetak untuk diedarkan di pasaran.

Kusadari, ini benar-benar kekuasaan Tuhan. Ia mewujudkan impianku untuk menerbitkan buku karanganku sendiri. Kucoba menarik makna dari nasibku : Kuatkanlah Impian, terus menulis, biarkan Tuhan yang mewujudkannya! Dan apa yang aku alami ini, mungkin akan sulit terwujud jika aku tak pernah berani mencoba online! Internet benar-benar mengubah duniaku!

Bogor, 4 Juli 2009

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas