Pilihanku

Posted on 7 July 2009 by

11


20090609pemilu2009-org

8 Juli 2009 rakyat endonesya dihimbau untuk Nyontreng di TPS. Temanku meminta pendapat tentang penilaianku terhadap ketiga capres berikut cawapresnya. Ia bimbang dan bingung mau memilih yang mana, walau tak sebingung ketika PILEG kemarin. Apalagi saat PILEG itu, dia juga dalam kondisi kurang fit: Pilek!

Aku sudah berupaya mengelak dengan menyatakan, bukanlah pengamat politik. Bahkan susah mengerti politik di endonesya. Tapi ia bilang, justru karena aku bukan pengamat politiklah, ia percaya dengan pandanganku sebagai orang biasa. Justru ia curiga dengan pengamat politik, yang tak independent, yang analisisnya disponsori oleh kepentingan partai, jurkam, tim sukses, atau orang kuat tertentu.

MEGA-PRABOWO

Keduanya sama-sama berambisi menjadi presiden. Karena tak mendapatkan teman koalisi ideal, terpaksalah mereka menjalin kisah-kasih perpolitikan. Bagiku, Megawati tak pernah punya program yang jelas sebagai presiden. Dulu waktu ia jadi presiden, terlihat lebih banyak orang-orang di sekitarnyalah yang mengatur negara. Yang ada di kepalanya hanyalah legenda sang Ayah. Berbeda dengan Prabowo, yang mempunyai impian yang kuat terhadap masa depan endonesya. Ini bisa dilihat dari omongan dan iklan-iklan Prabowo beberapa tahun belakangan. Namun secara pribadi aku kurang tertarik dengan Mega-Pro terkait iklan-iklan tersebut. Mereka selalu mengedepankan keburukan pihak lain. Iklannya seolah-olah menilai pemerintah sekarang bak regim yang menindas rakyatnya sendiri. Ia nyatakan puluhan tahun rakyat hidup dalam kemelaratan. Lha, di antara 40 tahun ke belakang? Tak ingatkah kalau Prabowo pernah menjadi bagian dari kekuasaan? Atau, paling tidak, ia pernah merasakan nikmatnya fasilitas dan karier karena menjadi bagian dari keluarga Cendana.

Sebenarnya aku lebih melihat, Prabowo yang pantas sebagai presiden. Kekuatan Megawati memang masih diliputi oleh sosok sang Ayah, Sukarno. Tapi, itu bukanlah kekuatan yang pantas dikedepankan bagi seorang presiden. Berbeda antara Sukarno dan Megawati. Sang Ayah, bolehlah diacungi jempol, tapi mbak Mega? Aku tak melihat ia punya kapabilitas sebagai presiden pada masa lalu dan sekarang.

Andai Prabowo membuat iklan yang tidak mengedepankan serangan negatif terhadap rival politiknya, dan andai ia yang menjadi calon presiden, lalu mendapatkan pendamping selain Megawati, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk memilih dia.
SBY-BOEDIONO

Sebagai presiden yang kembali mencalonkan diri, biasanya SBY lebih punya peluang menang lebih besar. Karena jabatannya sekarang memberikan kemudahan baginya untuk berpromosi. Sebagaimana presiden-presiden sebelumnya yang juga memanfaatkan jabatan sebagai kampanye pocong terselubung.

SBY memilih Boediono sebagai cawapres dengan pertimbangan, endonesya membutuhkan pemimpin dari kalangan profesional. Walaupun keputusannya mengundang kekecewaan beberapa partai yang berkoalisi dengan demokrat, bagiku endonesya memang butuh pemimpin yang bisa bekerja secara profesional, bukan sekedar berlatarbelakang profesional. SBY merasa harus menyelesaikan PR-PRnya yang belum selesai selama menjadi presiden.

Figur Boediono memang menuai protes. Ia dikaitkan dengan ekonomi neo-lib. Tapi bagiku, tak penting mau neo-lib ataupun islamic, asalkan benar-benar mengangkat derajat rakyat endonesya pada keadilan, kesejahteraan, dan persamaan.

Terhadap calon nomor 2 dalam urutan capres Pemilu 2009 ini, aku masih menyiimpan harapan besar. Iklan yang mereka tayangkan di televisi, radio, maupun media cetak, membentuk citra SBY sebagai pemimpin yang sukses. Hanya saja, aku masih melihat raut SBY yang mudah panik dalam menghadapi masalah. Keraguannya ia tutupi dengan public speaking yang lumayan bagus. Walau tak menutup kepribadiannya secara utuh. Aku memiliki pilihan 50% terhadap SBY-Boediono. 50% lagi, sepertinya masih tetap milik pasangan nomor urut 3.

JK-WIN

Menurutku, pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto mewakili satu partai, yaitu Golkar. Sebab Hanura, sebagai partai baru begitu identik dengan Golkar karena memang kebanyakan adalah para mantan orang Golkar. Mereka merasa tak sejalan, lalu bikin partai sendiri. Tapi ketika kalkulasi kekuasaan memungkinkan untuk kembali bersandingan, merekapun menjadi saling sayang. Teringat teori politik, “tak ada teman abadi, kecuali kepentingan abadi”.

Terlepas dari latar belakang mereka berdua, apalagi khusus buat JK, yang pernah “kuledek” pada blogku yang lama. Aku menganggap JK-WIN punya niat baik, menjadikan endonesya lebih baik dari sekarang. Secara pribadi, aku tertarik dengan semua iklan yang dibuat oleh tim sukses JK-WIN. Iklan tersebut benar-benar positif thinking terhadap pemerintahan yang berkuasa. Iklan JK memberikan harapan yang jelas terhadap masa depan endonesya. Kemandirian, lebih cepat lebih baik, jaminan terhadap rakyat miskin, adalah tema iklan yang dibuat amat menarik oleh tim sukses JK.

Tapi niat baik memerlukan program yang jelas. Misalnya progam MAMPU. Terhadap iklan ini, aku merasa belum jelas mekanisme penyebaran modalnya. apakah jika JK-WIN menang, mereka benar-benar sanggup mewujudkan program MAMPU? Semoga saja mereka memilikinya.

Dalam debat capres dari sessi awal hingga final session kemarin, aku melihat sosok JK yang lebih percaya diri. Gayanya yang rada cuek, bagi sebagian orang bisa merusak citra dirinya sebagai capres. Tapi aku lebih suka gaya cuek seperti itu, yang mendekatkan jarak antara pemimpin dan rakyat. 50% pilihanku tertuju pada JK-Wiranto.

Lalu siapakah yang kupilih? Tergantung di TPS besok, apakah pilihanku akan berat kepada SBY atau JK. Yang jelas, pada kedua calon itulah pilihanku mengarah. Tinggal satu hal yang akan mempengaruhi pilihanku di kotak tertutup besok : intuisiku.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas