Merenungkan Dblogger

Posted on 15 July 2009 by

24


Apa yang terlintas di kepalamu tentang komunitas blogger? Apa yang kamu pikirkan tentang dblogger? Apakah hanya sekedar perkumpulan yang hobinya ngumpul-ngumpul? Apakah sekedar wahana untuk melepas kepenatan kerja? Apakah sekedar media untuk mencari pacar? Apa?

Duh, tulisan ini kumulai dengan deretan pertanyaan. Padahal jejeran tanda tanya itu tak mesti dijawab sih. Paragraf pertama itu hanyalah pemantik renungan. Agar kita mau merenungkan kembali filosofi dari komunitas yang kita bentuk dan menyatukan kita di dalamnya.

Dblogger bukan sekedar komunitas penyelenggara kopi darat. Juga bukan ajang untuk arisan, yang lebih dikenal sebagai dbloggeran. Komunitas kita ini juga bukanlah lembaga sosial walaupun memiliki program kepedulian sosial. Dblogger juga bukan sekedar kelompok belajar menulis, dengan kontes menulis tematik yang digelar setiap bulan. Kongkowan kita ini juga bukan katrol untuk menaikan pamor. Ada satu hal yang lebih berarti dari itu semua.

Dblogger adalah sebuah keluarga. Di dalamnya ada kebersamaan. Ada kesalingpedulian. Ada kecemburuan, ada nasehat, ada canda, bahkan ada juga konflik. Namun semua itu tak akan merusak keutuhan komunitas kita, jika berangkat dari kesadaran yang sama sebagai sebuah keluarga. Adakah yang lebih berharga ketimbang keharmonisan keluarga?

Aku menyaksikan berbagai peristiwa di keluargaku sendiri, dblogger. Ada yang cekcok kata lantaran fiksi yang kontroversial. Ada yang menjalin kekerabatan. Ada yang meragukan sosok kepala keluarga. Ada yang kesal dengan gaya tetua. Ada juga yang menjalin cinta. Malah, ada yang khawatir tersaingi popularitasnya dengan semakin populernya anggota lainnya. Inilah keluarga. Seberat apapun masalah di dalamnya, jika kita memandangnya sebagai sebuah keluarga, maka akan kembali mencair. Seutas senyum selalu mengakhiri amarah yang pernah ada.

Satu hal lagi bukti yang membuatku menilai dblogger adalah sebuah keluarga. Ketika ada seorang dblogger yang dikabarkan kabur dari rumah, beberapa dblogger saling menelpon untuk mencari tahu kemanakah anggota keluarganya itu pergi. Bahkan tidak sedikit yang mengkhawatirkan keselamatannya. Walau ada juga yang menggerutu “bego!”. Tapi itulah keluarga. Kepedulian ada di dalamnya. Kadang ada kesal juga, namun kekesalan itu hanyalah sesaat saja.

Sebuah keluarga tak pernah menutup diri untuk sebuah diskusi, kritik, bahkan silang pendapat. Tapi, selama semua itu dilakukan dalam frame sebuah keluarga, ujung-ujungnya adalah tetap membesarkan keluarga, bukan meruntuhkan bangunan yang telah lama dibina bersama.

Dalam sebuah keluarga, siapapun penting keberadaannya. Tak ada anak yang dianggap sepele. Semuanya sama. Adapun strukturisasi yang dibentuk hanyalah generator yang menggerakkan keluarga ini. Eksistensi mereka penting, tapi tidak paling penting dibanding yang lainnya. Inilah dblogger. Inilah keluarga kita.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas