SIj ‘ach be’ val (Pinter tapi Keblinger)

Posted on 17 July 2009 by

9


Kalau aku tidak menambahkan kalimat dalam bahasa “emak” kita, bisa jadi kamu tak mengerti apa yang aku maksud. Akan menjadi percuma jika aku berbicara untuk tak dimengerti. Tak ada manfaatnya jika aku menulis agar orang lain bingung.

Kejadian seperti ini pernah kualami dulu. Salah seorang pengrajin ceramah di kampungku, selalu menghiasi kata-katanya dengan istilah asing. Tanggapan jamaahpun beragam. Ada yang bingung tentang apa yang diceramahkan, ada yang saling bertanya tentang istilah yang didengarnya namun tak saling bisa menjawab, ada juga yang salut karena penceramah itu dianggap pintar dengan seringnya melontarkan “istilah keren” itu.

Suatu malam selesai memberikan ceramah rutin, aku menanyakan arti dari beberapa istilah yang ia sering gunakan. “interpretasi, elaborasi, inkonsistensi, komprehensif, agent of change, apa sih artinya?” Sang penceramah menjawab, “interpretasi itu maksudnya… seperti memberikan nilai yang baik atas sebuah pengertian. Elaborasi…. Yach, nanti deh aku jelaskan. Sudah tak ada waktu lagi, karena ada janji di tempat lain.” Tampak gagap walau tetap berusaha agar tidak terlihat gugup.

Jika ia berbicara pada kalangannya sendiri, yang sama-sama mengerti, tak mengapa. Jika ia bicara di depan audience, dan bisa menjelaskan artinya atau menerjemahkan maksudnya ketika ada yang tak mengerti, itupun tak mengapa. Jika ia menggunakan istilah ilmiah ataupun asing hanya untuk keren-kerenan, biar dianggap pintar, ini baru masalah. Ini percuma. Tak beda seperti Bang Mandra dalam lakon Si Doel Anak Sekolahan, yang sering mengoceh, “realita, prinsip” padahal tak tahu arti dari ucapannya sendiri.

Harapan “biar dianggap pintar” bukan hanya terjadi dalam kasus di atas saja. Ada juga orang yang ingin dianggap pintar, dengan menyalin kode, tulisan, kutipan, yang dibuat orang lain dan dirasakan sebagai miliknya ketika dia paste di blog, website, profile, artikel, ataupun bukunya. Ia tak menyadari, ternyata banyak orang yang tersenyum melihat ketidakcerdasannya.

Saat menonton acara diskusi di TV. Seorang anggota DPR selalu bicara dengan gaya meledak-ledak, kata-kata yang penuh amarah, dan menyalip omongan narasumber lainnya yang sedang diberikan kesempatan bicara oleh moderator. Anggota Dewan yang aneh namun tetap dibilang terhormat itu merasa apa yang dikatakannya paling benar dan harus diterima forum. Moderator, maupun narasumber lainnya, yang lebih banyak mengalah, hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Anggota DPR ini ingin terlihat pinter, namun yang tampak justru sebaliknya, keblinger.

Begitulah. Sebelum menulis catatan ini, aku pernah sengaja menuliskan status facebook-ku dengan bahasa Klingon :
sp32-20090511-003852
Seperti kuduga, banyak temanku yang tak mengerti. Itu kulakukan sebagai pembuktian, jika sebuah komunikasi tidak ditujukan untuk saling berbagi pengertian, hanya akan menciptakan tanya. Jadi, percuma saja kan?! Karena itu, mulailah bicara apa adanya, dengan bahasa yang sama-sama dimengerti oleh yang mendengar. Terutama dimengerti oleh yang berbicara! hahaha *ketawa gaya mbah surip*

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas