Tak Ada yang Tak Bermanfaat

Posted on 23 July 2009 by

16


Ini kisah sang Kopral Menthog. Ia adalah salah seorang anggota Tim Ekspedisi Walisongo di luar rencana. Ketika semua anggota tim (8 orang) mulai musyawarah untuk saling memahami track ekspedisi, sekonyong-konyong, munculah Mang Hanafi, si Kopral Tua itu. Ia kami panggil kopral menthog karena hingga pensiun, hanya sampai situlah pangkatnya di kepolisian. Ia tak marah dengan panggilan tersebut, justru bangga karena satu alasan: Ia jadi kopral abadi karena jujur! tak main sogok-sogokan agar naik pangkat.

e-kopral-hanafi

Semua anggota tim sebenarnya menolak mentah-mentah ketika ia merayu agar disertakan dalam ekspedisi. Sudah berbagai alasan disampaikan agar ia tak ikut, tapi tetap saja si Kopral keras kepala ini memaksa ikut. Akhirnya kami mengalah. Setelah memaksanya meminta ijin dari istrinya, kamipun berangkat bersama sang Kopral tua.

Bahkan jelang keberangkatanpun masih terkesan anggota tim tak menerima kehadirannya. Teman kami yang serombongan di mobil pertama mengunci pintunya. Begitupun dengan mobil kedua, dimana aku menjadi navigatornya. Locked!

Dalam keadaan diacuhkanpun ia tetap merasa menjadi bagian tim. Ia memaksakan diri masuk ke salah satu dari dua mobil yang kami pakai. Mengalah adalah jalan terbaik. Apalagi sang Kyai muda, yang kami tunjuk sebagai pimpinan perjalanan menyetujui keikutsertaannya dengan satu syarat: Jangan minta pulang di tengah jalan! Jadi harus ikut sampai ekspedisi ini berakhir, yaitu 25-31 Mei 2009.

Aku menginsyafi kehadirannya dengan satu teori langit. “Tak ada yang tak bermanfaat! Allah menciptakan tidak dengan sia-sia.” Aku berharap, sang kopral bisa bermanfaat bagi perjalanan kami. “Kapan ia bermanfaat? Selama kenal saja tak pernah ada manfaatnya, malah ngerepotin terus!” gerutu temanku.

Perjalanan dimulai. Hanya Tuhanlah yang menentukan kapan setiap anggota tim ekspedisi menunjukkan manfaat kehadirannya. Dari bantarkemang, kami menelusuri tol Jagorawi menuju Cirebon. Sang kopral membuat ulah yang menjengkelkan teman-teman. Dari Cirebon lanjut melintasi Brebes, Tegal, Pekalongan, Pemalang, hingga Alas Roban. Sang Kopral makin membuat “eneg” perjalanan. Di SPBU Alas Roban, ia dibuang ke mobilku.

Begitupun di mobilku, ia terus nyerocos tak ada isi, mengerecoki PS yang menyetir Phanter tahun 1995. Merusak konsentrasiku sebagai navigator. Dan memancing emosi Kang Haji yang duduk di sebelahnya. Jika ia tak ngoceh, pasti seisi mobil ini dikuasai oleh asap rokok yang mengepul dari mulutnya. “Hm… cemana pula ini manusia!” gerutuku.

Ketika kami ditilang polisi, ia diam saja seperti ular phyton kekenyangan. Tak ada inisiatif untuk mengurangi “nominal palakan” sang polisi di luar sana, yang mencari-cari kesalahan pada Phanter tua bangka ini.  Hingga kami sampai di Demak, iapun mengecewakan Kyai karena tak patuh ketika diperintahkan Shalat Jama’. Perjalanan berlanjut hingga Kadilangu, Kudus, Gunung Muria, Rembang, Lamongan, Gresik, Surabaya, dan Banyuwangi. Tetap saja sang Kopral memancing emosi kami. Kamipun jadi tak segan-segan memarahinya. Bayangkan, sudah berapa ratus kilometer perjalanan ini diganggu oleh ulahnya yang menjengkelkan. “Sudah tak modal, banyak omong, banyak tanya, merokok tak tahu aturan di mobil, kalau makan paling banyak lagi!” Umpat salah seorang temanku. Tapi, kami harus tetap menyertakan dia. Sebab sang pimpinan telah mengijinkannya ikut serta. Kami harus patuhi keputusan pemimpin, walau pahit.

Kucukupkan sampai di sini saja, walau sebenarnya masih panjang kisah tentang sang Kopral Menthog. Satu hal yang akhirnya kami insyafi bersama, kehadirannya benar-benar menguji temperamen kami. Bahkan sebenarnya ia bermanfaat di tengah perjalanan, yaitu menjadi satu-satunya sasaran pelampiasan kelelahan dan emosi anggota tim ekspedisi. Hebatnya, ia tak pernah ngambek ketika dijadikan pelampiasan. Dan kamipun bisa tertawa ketika saat santai mengulas tingkahnya, sebagai pelepas lelah. Ternyata itulah manfaatnya. Jika ia tak ada, kepada siapa kami harus melampiaskan amarah? Jika ia tak ada, siapa yang – walau tak langsung – memicu tawa? Tuhan memang punya rahasia. Dan manusia sering menyadari di tengah, bahkan di akhir perjalanan ini. Masih ada kisah dan manfaat terkait sang Kopral. Tunggu saja postingan berikutnya 🙂

Advertisements