Pikiran Negatif, Rezeki Negatif

Posted on 3 August 2009 by

8


Badrul terlalu sering berpikiran negatif terhadap apa yang dia hadapi. Kalau tidak menanggapi sesuatu secara negatif, paling banter ia mencurigai apa yang dilihatnya sebagai suatu kekhawatiran. Waktu temannya memberikan seekor ikan bakar, setelah memakannya, ia komentar (tentu tanpa sepengetahuan yang memberi), “ngasih ikan bakar, kecil banget!” di lain waktu ia ngedumel, “ikan bakar kok keasinan!” pernah juga bilang, “nggak saya makan, habis terlalu pedas sih, mending saya kasih anjing tetangga saja!” Waktu mengembalikan pinjaman sepeda motor teman sekantor, ia bilang, “motor kamu itu nggak enak banget dipakainya! Remnya nggak pakem!

Suatu ketika, perusahaan tempatnya bekerja mengajak seluruh karyawan berlibur ke Ancol. Di perjalanan, ia ngedumel kepada beberapa teman-temannya, “Bosan, liburan ke Ancol terus! Padahal enakan ke Pantai Anyer… dasar perusahaan pelit!” Begitupun ketika mendengar rencana tetangganya menikah dengan seorang Negro, ia curiga, “Rugi deh nikah sama Negro. Siapa tau aja itu Negro pura-pura masuk Islam, trus pas sudah nikah, istrinya dipaksa jadi Kristen! Dasar perempuan bego!

Badrul terbiasa begitu. Kini dia merasa makin hari makin jarang orang memberinya hadiah, membantunya meminjamkan sesuatu, dan sudah jarang ditraktir temannya yang baru dapat rejeki nomplok. Mungkin karena terbiasa berkomentar negatif sehingga teman-temannya jadi malas memberinya pertolongan.

Kemarin, Badrul kehabisan ongkos buat pulang kerja. Gajinya sebulan memang hanya cukup untuk hidup 20 hari saja. Ia berusaha meminjam uang dari satu teman ke teman lainnya. Hasilnya nihil. Sambil berjalan kaki, ia ngedumel sendiri, “Dasar orang-orang pelit! Nggak setia kawan! Nggak ngerti kalau orang lagi susah!” sepanjang jalan ia terus mencaci maki sikap teman-temannya, hingga ia keserempet Bajaj yang doyan zig-zag di tengah kemacetan.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas