Batal PERSAMI

Posted on 4 August 2009 by

12


Tugino mencari solusi, bagaimana caranya agar uang gajinya tidak selalu habis ketika sampai ke tangan istrinya, Tuginem. Apalagi setelah Tugino terlibat silent-loving dengan Inah, – perempuan simpanan bosnya, Ngkoh Cin Lung-, Tugino harus bisa menyisihkan uang sekedar untuk ongkos ke rumah Inah. Setelah berpikir panjang, akhirnya Tugino mendapatkan good plan : “Menyelipkan uang simpanannya di dalam sepatu bots butut yang sudah tak dipakainya”. Ia yakin, mana mungkin Tuginem mau menyentuh barang-barang bekas. Apalagi sepatu satpam Tugino, yang aromanya bisa membuat ikan seempang mati keracunan.

Sudah tiga minggu ini Tugino “menabung” demi bisa menemui Inah. Karena belakangan ini Ngkoh Cin Lung sudah jarang menyuruhnya memberikan titipan uang kepada Inah. Dulu biasanyanya seminggu sekali. Kalau sekarang hanya sebulan sekali. Sedangkan Tugino sih, maunya setiap hari… :p Dengan hati berbunga-bunga Tugino pulang kerja. Ia sudah berencana kalau sore ini akan ke rumah Inah. Ini program PERSAMI. Dari sejak Pramuka Tugino senang ikut Persami (Perkemahan Sabtu-Minggu). Tapi kali ini beda. Persami adalah Perselingkuhan Sabtu Minggu. Tugino membayangkan uang tabungan di Sepatu Bututnya, lalu membayangkan ia makan bakso di kampungnya Inah. hm… indah… Sepanjang jalan Tugino berdendang…. “Tak gendong, kemana-mana….

“Mau pergi lagi ya, mas?” Tuginem menyambut kedatangan suaminya, sambil menonton TV.
“Iya nih. Biasa, dinas luar. Tugas khusus dari Nkoh!” Sahut Tugino dengan acting yang meyakinkan sambil berjalan ke arah belakang rumah, tempat sepatu bututnya bertengger.

“Tugineeeeem!” tiba-tiba terdengar teriakan Tugino di belakang sana. Dengan langkah malas, Tuginem mendekati suara yang penuh dengan emosi terkejut dan marah. “Nem! Mana sepatu bekasku? biasanya kan ngejedog di sini?!!” Tanya Tugino dengan sepenuh hasrat ingin tahu.

“Ah si mas. Ngapain sih, mikirin barang bekas! Tumben sekali. Biasanya juga nggak pernah peduli sama barang-barang lama…” jawab Tuginem santai sambil memegang remote TV.
“Ng.. anu… Ng… Aku berencana memberikan sepatu bekasku buat si Ngalimin, tukang parkir di kantorku! Kasihan dia setiap kerja cuma pakai sendal jepit.” Tugino beralasan.
“Welleh, si Mas ini, tumben banget punya niat baik. Tapi sayang banget, mas. Tadi siang semua sepatu bekas di situ sudah aku jual ke tukang loak. Kebetulan ada yang lewat, bisa ditukar piring, gelas, dan abugosok. Yaa, kalau beli baru kan lumayan. Lumayan, mas! Kita punya tambahan perkakas: 4 piring, 3 gelas, dan setengah karung abu gosok!”

Tugino tersiksa. Ingin marah, tapi takut ketahuan. Tidak marah, ya kesal. Terbayang uang simpanannya kira-kira sudah mencapai 300 ribuan kini telah berpindah tangan ke Tukang Abu Gosok. “Hehh….!” Tugino melenguh. “Huuh!” Tugino mengeluh. Betapa berat baginya menerima kenyataan ini. Batal ketemu Inah. Batal menyelenggarakan PERSAMI.

Advertisements
Posted in: Serial TnT