Keputusan

Posted on 13 August 2009 by

16


Sudah lama temanku meminta menulis tentang manajemen. Dulu aku pernah menulis hal-hal yang berkaitan dengan urusan manajerial. Serialnya punya nama “Manajemen Tanpa Beban“. Kenapa tanpa beban? karena me-manage adalah pekerjaan untuk mengurangi – bahkan – meniadakan beban dari suatu kumpulan orang-orang. Serial Manajemen Tanpa Beban sudah lama tercampur dengan e-book saya yang bertitel Marginal Side. Cari saja di sana, download saja dari sini.

Kini saya mengangkat satu pekerjaan yang mau tidak mau harus dilakukan oleh semua manajer, yaitu Decision Making, Ngambil Keputusan, Memutuskan, mutusin, kalau kata bang Namun. Kelihatannya gampang. Tinggal memutuskan saja, apa susahnya. Tapi pada kenyataannya, tidak sedikit orang yang berada pada posisi sebagai decision maker, malah takut memutuskan. Ini namanya 99 + 1 (cepee deh!)Β  πŸ™‚

Untuk mengambil sebuah keputusan memang diperlukan keberanian. Pernah satu ketika, seorang pejabat baru di Perusahaan Gonta-Ganti Merk/brand Terus, berhadapan dengan beberapa pegawai yang mendapatkan penilaian minus dari bagian HRD. Mestinya, sang Manajer HRD tinggal menyampaikan saja keputusan perusahaan tentang demosi yang seharusnya diterima oleh para pegawai tersebut. Tapi sang manajer tak berani. Ia lantas meminta agar para pegawai itu bertemu langsung dengan Presiden Direktur, yang saat itu sedang memimpin rapat strategis dengan investor asing. Mendapat kabar seperti itu, sang Presdir langsung berkomentar, “Lha pegimane? pan elu nyang mestinye mutusin. Masa musti ke gue-gue lagi. Trus lu ngapain ngejogrog di kantor aje?

Sang manajer HRD tak enak memutuskan, karena salah satu dari pegawai yang akan mendapatkan demosi adalah orang yang sering ia mintakan tolong kalau ia butuh beli makanan tambahan buat lembur. Itu sering terjadi, sehingga perasaan tak enak jadi lebih mendominasinya ketimbang kejantanannya. Itulah salah satu contoh, betapa mengambil keputusan itu gampang-gampang susah.

Bagi orang yang sadar bahwa posisinya harus mengambil keputusan, ia tak akan ragu untuk memutuskan. Sebab keraguan sedikit saja akan merusak kredibilitasnya sebagai pengambil keputusan. Banyak hal di dunia ini yang tak akan berjalan normal tanpa sebuah keputusan. Frank Lampard tidak akan pernah mencetak goal walau kiper lawan sudah mati langkah, jika ia tak memutuskan untuk mencetak goal. Kenapa Contohnya Frank Lampard? Karena dia pemain favorit saya. Bayangkan jika seluruh rakyat Endonesya tak mengambil keputusan saat pemilu? Bayangkan jika Polisi tak mengambil keputusan menghadapi maling jemuran yang kabur dengan motornya via jalan tol? Bayangkan jika anda tak pernah mengambil keputusan untuk menikahi perempuan pujaan? Jadi, segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini memang harus diputuskan.

Seorang teman saya, Coople pernah bilang, “Hidup adalah sebuah pilihan.” Ya tentunya setiap pilihan perlu sebuah keputusan. Jadi bagi anda yang masih malu, masih nggak pede, masih atuuut (takut), mulailah berani untuk mengambil keputusan. Ini baru tentang memutuskan saja. Belum hal-hal apa saja yang menjadi pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan. Insya Allah akan saya bahas nanti, kalau ada umur.

Advertisements