Menjadi Endonesya

Posted on 17 August 2009 by

24


Sejak pagi masih gelap aku berjalan keluar rumah. Terlihat rakyat endonesya dalam berbagai aktifitasnya. Ada anak-anak SMA yang berlari menuju lapangan. Mereka adalah para petugas Upacara Tujuhbelasan. Ada juga anak-anak SD dan TK yang bersiap-siap untuk berbaris. Mereka mau konvoi, berjalan beriringan menuju lapangan kecamatan. Ada juga ibu-ibu berkebaya putih dan syal motif batik, juga dengan tujuan yang sama. Aku melihat semangat mereka untuk mengikuti “Upacara 17-an”.

Sementara itu, ada juga rakyat yang tetap nongkrong di warung kopi. Mengisi pagi dengan nasi uduk dan kopi manis.

Nggak ikut rame-rame, kang?” tanyaku
Ngapain? cuma upacara doang!” matanya tetap fokus pada makanannya.
Nggak ikut upacara juga tetep rakyat endonesya!” sambung temannya.
Lombanya ikut, nggak?
Ikut dong, tar siang ada panjat pinang di kecamatan. Kemaren juga ikut voli, tapi kalah.
Ntar seru nih, nonton aja di kecamatan!” ajak yang lainnya kepadaku.
Kalo ikut lomba sih enak, bisa dapat hadiah. Kalo upacara, dapet cape doang!” kata yang masih makan nasi uduk.

Macam-macam memang rakyat kita. Ada yang semangat ikut upacara, ada yang hanya suka ikut lomba saja. Tapi tak apalah, yang penting sama-sama merayakan dirgahayu RI. Ulang tahun negaranya sendiri.

Tapi ada juga temanku yang enggan memasang bendera merah putih di rumahnya. Dia beralasan, tidak bangga menjadi bangsa endonesya. Lagipula, dengan memasang bendera merah putih dianggapnya nasionalis. Ia malu mengaku rakyat endonesya. Ia bahkan mencibirku ketika mendengar ringtone hapeku yang bernada lagu Endonesya Raya. Bahkan pernah juga aku diremehkan karena memasang bendera merah putih di depan rumahku. Temanku ini memang rada fundamentalis. Baginya yang penting adalah kedaulatan Tuhan, bukan manusia. Ia tak akan memasang bendera merah putih. Haram! Andai terpaksa memasangnya karena tuntutan aparat, ia bilang, “kamuflase!”

Ya, begitulah rakyat kita, macam-macam. Cuma aku rada heran saja dengan teman-teman yang seperti itu. Mereka enggan memasang bendera merah putih, tapi semangat sekali memasang bendera ataupun atribut partainya. hm… padahal lebih besar sebuah bangsa ketimbang partai.

Melihat realitas seperti sepagian tadi, aku menyadari betapa panjang perjalanan bangsa ini untuk sekedar menjadi ENDONESYA!

Advertisements
Posted in: Dirgahayu