Mau Lurus, Malah Dzalim

Posted on 30 August 2009 by

19


Si Gali begitu semangat keluar dari dealer motor di kota. Ia punya peluang bisnis baru : menawarkan kredit motor di kampungnya. Sesuai janji Kepala Bagian Marketing di Dealer itu, gali akan mendapatkan bonus 100 ribu Rupiah per orang yang didapatinya. Itu jatahnya sebagai referensi. Gali sudah membayangkan berapa ratus ribu jika ia bisa membantu tetangganya kredit motor. Lumayan, bisa buat biaya lebaran. Apalagi ini adalah peluang halal yang bisa ia hadiahkan untuk keluarganya.

Berkat usaha yang keras, ia berhasil mendapatkan 10 orang tetangganya yang siap kredit. Salah satu di antaranya adalah pak RT. Pintar juga si Gali, pertama kali ia menawarkan kepada pak RT, karena jika pak RT yang menawarkan, kemungkinan yang tertarik akan lebih banyak dari pada bekerja sendiri.

Seminggu kemudian 10 motor bebek baru sudah menjadi milik sementara 10 warga kampungnya Gali. Pihak Dealerpun memberikan janjinya kepada Gali. Iapun langsung ke rumah pak RT untuk memberikan jasa. Namun tanpa diduga, pak RT menolak.

“Ini uang haram! kamu ini memanfaatkan orang kampung agar mau kredit motor lalu kamu enak-enakan dapat duit sejuta!” pak RT marah.

“Lho, saya rasa ini tidak haram, pak. Ini kan hasil dari usaha saya bekerja sama dengan dealer. Saya bolak balik ke Dealer di kota kan perlu biaya juga.” protes Gali. Memang jarak Dealer Motor ke kampung gali sekitar 40 KM lebih.

“Saya tidak setuju cara kamu. Sini uangnya saya pegang semua! Biar saya kembalikan buat tetangga-tetangga kamu itu…” Pak RT merampas amplop coklat dari tangan Gali.

“Pak, mohon beri saya sebagiannya saja. atau 25% saja sebagai ganti ongkos-ongkos saya…!” Gali memelas.

“Tidak bisa! ini hak mereka, bukan hak kamu! Sudah, saya mau ke masjid, mau shalat dhuhur!” Pak RT meninggalkan Gali di depan rumahnya.

Gali pulang lemah lunglai. Harapannya untuk memberikan oleh-oleh kepada orang tuanya saat lebaran sirna. Ludes semua penghasilannya sebagai mediator kredit motor. Gali mencoba memahami pak RT. Pak RT rajin beribadah. Bahkan ia sudah tidak menolerir jika ada pemuda kampung yang berjudi atau mabuk. Tapi Gali juga mikir, kenapa untuk bersikap lurus, ia harus menjadi korban? Uh… Gali merasa didzalimi. Yach, Gali memang lugu.

Advertisements
Posted in: si Gali