Serumpun Padi Tumbuh di Sawah

Posted on 2 September 2009 by

15


Pagi ini aku menyanyikan lagu lama yang pernah kunyanyikan waktu SD (Sekolah Dasar).

SERUMPUN PADI
Written by : R. Maladi

Serumpun padi tumbuh di sawah
Hijau menguning daunnya
Tumbuh di sawah penuh berlumpur
Di pangkuan ibu pertiwi

Serumpun jiwa suci
Hidupnya nista abadi
Serumpun padi mengandung janji
Harapan ibu pertiwi

Kusenandungkan lagu itu sambil menonton TV tentang amarah saudara sebangsa akibat ulah saudara serumpun di Malaysia. Begitupun ketika kubuka laptopku dan membaca harian online, masih ada saja kecamuk benci terhadap Malaysia. Bahkan ada perlawanan komentar dari orang Malaysia di sebuah blog publik.

Memang kalau kuingat-ingat kembali, beberapa kali Malaysia melakukan klaim atas hak endonesya. Mereka merasa lebih superior ketimbang bangsa endonesya yang menurut sebagian orang Malaysia dianggap sebagai bangsa penjual manusia (budak/TKI).

Dari sini saja sebenarnya antara Malaysia dan endonesya memiliki sedikit perbedaan picuan sikap. Ratusan rakyat endonesya pergi ke Malaysia untuk mencari uang, dengan bekerja ataupun mengorbankan nyawa dan harga diri. Sedangkan orang Malaysia datang ke endonesya untuk mencari ilmu, belajar di sekolah maupun universitas yang kualitasnya memang lebih baik dan tak tertandingi oleh perguruan tinggi di Malaysia. Kalaupun ada orang Malaysia yang cari uang di sini, mereka umumnya mempunyai status pekerjaan yang lebih mentereng ketimbang orang endonesya yang kebanyakan jadi jongos/babu.

Perbedaan latar belakang tersebut membentuk perbedaan sikap. Orang Malaysia merasa lebih superior ketimbang orang endonesya. Melihat kenyataan orang Malaysia mengakui (mengklaim) produk dan budaya endonesya, tak usah heran. Itulah wujud dari sikap superior yang tumbuh sedikit demi sedikit dari sikap mereka terhadap TKI. Mereka sudah terbiasa merendahkan derajat orang endonesya. Kebiasaan itu membuat mereka yakin kalau orang endonesya tidak akan marah terhadap klaim budaya. Negeri yang pernah jaya pada zaman kerajaan masa lalu kini sudah terbiasa dihina, ditindas, dibodohi, diadudomba dan diracuni cara berpikirnya.

Tapi kali ini Malaysia salah kira. Justru sikap merendahkan martabat bangsa endonesya itu menjadi pemicu bangkitnya nasionalisme rakyat. Malaysia lupa kalau orang endonesya itu harus digampar dulu, baru sadar. Klaim mereka terhadap beberapa budaya endonesya merupakan gamparan yang keras. Maka dengan gamparan itu, banyak orang endonesya yang tersadar akan nasionalisme. Dengan gamparan Malaysia, banyak anak-anak muda yang kini mencoba belajar kembali tentang tari pendet, lagu-lagu kebangsaan, dan memaksakan diri memakai batik. Dengan tamparan telak Malaysia, banyak orang endonesya yang sadar, betapa mereka terlalu lama lupa akan budayanya, lupa akan harga dirinya, bahkan lupa tentang siapa dirinya sendiri.

Karena itu, sebagai bangsa serumpun, kuucapkan terima kasih kepada Malaysia. Bagaimanapun sikap superioritas kalian yang kadang menjengkelkan, kurespon dari sisi positifnya saja : Betapa nasionalisme endonesya menjadi bangkit kembali. Sebab bangsa ini memang bangsa yang harus dilecut, baru bekerja. Harus ditendang, baru sadar. Harus ada yang dibunuh, baru berani melawan.

note : postingan ini tidak saya ikutkan pada lomba menulis tematik merah putih indonesiaku di blogdetikkarena kuposting juga pada layanan blog publik lain selain blogdetik. 🙂

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas