Merelakan “Kedudukan”

Posted on 6 September 2009 by

14


Salah satu budaya bangsa endonesya adalah mengalah dan memberikan kenyamanan yang kita miliki kepada orang yang lebih pantas menerimanya. Misalnya di kendaraan umum. Apalagi kalau kita naik busway, ada stiker yang menyarankan agar mengutamakan tempat duduk untuk orang tua lanjut usia dan atau perempuan hamil.

Siang itu, setelah berhenti di beberapa shelter, busway yang awalnya sepi mendadak penuh. Nyaris tak berbeda dengan KRL kelas ekonomi yang biasa kutumpangi. Aku beranjak dari tempat dudukku ketika seorang bapak tua berperawakan kurus, berkacamata tebal, berdiri di hadapanku. Pak tua itu tersenyum dan pelan-pelan memutar badan untuk menggantikan “kedudukanku”. Dalam sekejap, seorang perempuan muda melesat dan menduduki kursi kosong itu.

Hampir semua orang di sekitarku memperhatikan perempuan muda itu. Bisa jadi semua berpikiran sama : koq tega sekali perempuan muda itu merebut kesempatan pak tua. Aku hanya terdiam dan membalas senyum pak tua yang berbisik di sebelahku, “Bukan rezeki saya…” Sementara sang perempuan muda kulihat duduk tersiksa akibat agresifitasnya dalam merebut kursi. Ia duduk dalam underpressure tatapan sinis penumpang lainnya. Akhirnya ia membebaskan dirinya dengan memejamkan mata, seolah-olah tertidur sambil menikmati musik dari headset yang terselip di kedua lubang hidung telinganya.

Busway Koridor 2

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas