Keganjilan di Bulan Ramadhan

Posted on 16 September 2009 by

7


Lailatul qadr katanya malam yang ganjil pada bulan Ramadhan. Tak jelas makna ganjilnya, apakah ganjil dalam hitungan hari atau ganjil dalam suasana. “keganjilan” itu adalah sebuah suasana yang berbeda yang dialami oleh seseorang. Apakah orang-orang yang mendapatkan moment lailatul qadr itu hanyalah orang yang sudah sering dan terbiasa beribadah? Apakah orang-orang yang baru kali ini beribadah Ramadhan, baru kali ini mencoba menyapa Tuhannya, bisa mendapatkan moment lailatul qadr?

Aku rasa siapa saja bisa. Tak mesti mereka yang sudah senior dalam agama. Karena senioritas itu tidak dikenal dalam agama. Yang penting dalam agama itu adalah pengalaman keberagamaan itu sendiri, yaitu bagaimana seseorang mampu memaknai dan menginsyafi setiap sikap keberagamaannya, buruk maupun baik. Sebab iman itu naik turun. Seperti sinyal handphone, kadang full kadang melorot. “As-Sinyalu (eh Al-Imaanu) yazid wa yankus” kalau kata Nabi Muhammad SAW. Jadi lailatul qadr itu pengalaman spiritual yang sangat bersifat individual dan misterius. Bahkan orang yang konon mendapatkan “keganjilan malam” itu juga tak dapat mendeskripsikan pengalaman pribadinya.

Ada beberapa anak muda di kampung saya yang mengajak begadang, karena menunggu datangnya lailatul qadr. Wah, ini aneh sekali. Aku menolak ikut karena memang tak bisa mengerti kenapa lailatul qadr itu mesti dibegadangin. Toh yang namanya hidayah itu datangnya tak terduga. Beda kalau kita nunggu Laila anaknya Haji Kodar, itu sih gampang, tinggal tungguin aja di pintu mushola setelah tarawih, dijamin pasti ketemu (kalu dia lagi tidak kedatangan tamu, sih). Lailatul qadr tidak perlu ditunggu-tunggu. Yang penting jalanin saja hidup ini dengan khusyu, dengan I´tidal, yaitu dengan tingkat konsentrasi untuk memaknai apa yang kita lakukan.

Namun yang penting dari semua itu adalah efek yang terwujud dalam kehidupan nyata sang pemeluk agama. Apakah dimensi spiritual Ramadhan itu memberikannya peningkatan akan kualitas empati, emosional, intelektual, dan moral. Ramadhan itu bukan hanya puasa dalam arti menahan lapar dan haus. Juga bukan terapi kejut, yang hanya berlaku selama 30 hari saja. Ramadhan adalah ruang-waktu untuk mengasah kualitas manusia dengan berbagai dimensinya. Kecerdasan emosional, sikap empati, rendah hati, ketajaman analisis, kecerdasan nalar, dan yang lebih penting dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara adalah, kemampuan untuk mengeliminir syahwat politik dan kekuasaan, gairah korupsi dan manipulasi.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas