Kucing

Posted on 9 November 2009 by

13


Tengah malam, pukul 00:36, seperti biasa, aku menulis di depan rumah. Udara setelah hujan reda membuat malam tambah dingin. Aku ingin menulis tentang topik yang diwawancarakan temanku di Jogja. Tapi batal.

Penyebabnya adalah kucing. Induk kucingku tidur di sebelah pahaku. Beralaskan keset dan bersandar pada pahaku, mungkin membuatnya hangat. Ketiga anaknya masih saja bercanda. Yang putih menerkam yang hitam. Yang putih-kuning ikut bersiaga menyerang. Merekapun saling serang dalam canda. Sepertinya mereka begitu berbahagia, saling mengejar, saling menerkam, tapi hanya bercanda.

Yang paling kecil, si Hitam lompat ke atas laptopku. Ia menciptakan jejak tulisan β€œjh34bna” (tanpa tanda kutip). Memang tak ada artinya dan tak penting. Tapi yang kulihat, ia amat bahagia. Iapun kuangkat dan kutidurkan di atas pangkuanku.

Kucing garong datang menjemput sang induk yang terbangun. Mungkin ia adalah ayah ketiga anak kucing yang lucu-lucu ini. Mereka berdua pergi meninggalkanku. Mungkin berkencan. si Putih dan Putih-Kuning masih bercanda. Si Hitam masih bermanja-manja di atas pangkuanku. tidur…

Advertisements
Tagged:
Posted in: Catatan Lepas