Pindah Selera ke Kopi Liong Bulan

Posted on 20 November 2009 by

8


Sebelum menetap di Bogor, aku jarang minum kopi. Paling seminggu hanya 3 gelas saja. Itupun harus kopi bermerk yang rasa dan harganya cocok di lidahku.

Sempat juga aku pindah ke kopi yang dipasarkan secara MLM. Kopi yang digadang-gadang berkhasiat untuk stamina itu menjadi kopi wajib bagiku. Tapi setelah pindah ke Bogor di hari terakhir tahun 2008, aku mulai berpindah ke lain hati.

Kopi yang memikat seleraku adalah kopi yang dibuat oleh keluarga keturunan Tionghoa di Sukasari. Menurut literatur, wilayah itu merupakan pecinan-nya Bogor.

kemasan kopi+gula dalam bungkus plastik. kemasan kopi saja dalam bungkus kertas

kemasan kopi+gula dalam bungkus plastik. kemasan kopi saja dalam bungkus kertas

Kemasannya ada dua macam. Retro dan Modern. Namun kedua kemasan tersebut tidak membedakan rasanya yang nikmat. Kopi bergambar seekor naga sedang menyemburkan api ke bulan ini bertekstur kasar. Jika diseduh dengan air mendidih, tak ada satupun butiran kopi yang mengambang di permukaan gelas. Ini menandakan biji kopi pilihan tanpa campuran jagung atau apapun yang mengurangi cita rasa kopi.

Saran terbaik untuk penyajian adalah dengan menyeduhnya dengan air mendidih yang baru dimasak. Jangan langsung diaduk, tapi biarkan dulu kira-kira 3 menit agar kopinya matang. Itu merupakan cara yang lazim diketahui oleh para penikmat kopi.

Harganya? Dijamin murah. Anda yang biasa ngopi di cafe bergengsi dengan harga minimal 15 ribu/cangkir pasti akan terkejut jika mencicipi kopi seharga Rp.600,- sebungkus! Pada kopi ini ternyata harga tidak mempengaruhi cita rasa. Tetap lebih mantap ketimbang kopi mahal.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas