Jalan Malam

Posted on 3 December 2009 by

11


22.15 aku, PS, dan ozzy butuh udara segar setelah tercekam stressor. PS mengajak jalan bertiga.

“Kemana?” tanyaku

“Nggak tahu nih, ntar aja di jalan kita tentukan…” ia menstarter Kijang yang pernah mati suri akibat oli palsu.

“Tempat nongkrong yang enak dimana di Bogor?” tanyaku pada Ozzy.

“Wah, tempat nongkrong gue gak tau. Kalo tempat Muja, gue tau deh…” Ozzy lagi stress berat karena pekerjaan pasang wastafel belum beres.

“Ya udah, masuk tol aja!” PS langsung belok kanan dari depan terminal Baranangsiang, masuk tol Jagorawi.

“Kita coba jalan lingkar luar bogor aja! cakep banget!” Usul Ozzy yang pernah sekali mencoba jalan tol yang katanya senilai 4 milyar itu.

“Mending kita mampir dulu ke Bogor Rest Area!” Pintaku. PS yang menyetir Kijang langsung saja berkomentar tentang kebiasaanku yang selalu mencari toilet jika memulai perjalanan.

Kami masuk Bogor Rest Area. Hm… KFC sudah tutup. Berarti memang nggak pas makan malam di situ. Lagian aku kurang suka menu ayam. Kalo Ozzy kurang suka dengan harganya :p

Selesai urusanku di toilet, kami langsung meluncur menuju pintu keluar tol Sentul. Dari sanalah ada jalur tol tambahan ke Lingkar Luar Bogor yang baru selesai sampai Warung Jambu.

Keluar tol Sentul, kami ragu untuk belok kanan ke arah Tol Lingkar Luar, atau nama resminya Pintu Tol Sentul Barat. Keraguan disebabkan oleh plang perboden (Forbidden) ke arah kanan. Tapi sepertinya plang itu tak benar. Sebab ada tanda coretan silang dengan cat hitam. Jadi, kami langsung belok kanan menuju pintu tol untuk memberikan uang panglaris Tol baru itu 3000 rupiah.

Baru saja memasuki Tol Lingkar Luar Bogor, pemandangan malam begitu indah. “Subhanallah!” Ozzy nyebut. Memang benar apa yang dia lihat sangat indah. Kulihat betapa indahnya Gunung Gede Pangrango, disusul dengan Gunung Salak. Pada malam hari aja begitu indah, apalagi ketika ada matahari. Pasti lebih jelas hijaunya.

Jalan tol ini masih baru. Jadi kondisi fisik jalurnya masih bersih, rapih, rata, dan bagus. Sayang sekali jika maintenance-nya nanti tak beres. Seperti jalan tol Tangerang-Merak (Banten) yang tak pernah beres meskipun diperbaiki setiap saat. Seperti proyek abadi.

Tak lama, kami keluar ke arah Warung Jambu. Kami sepakat untuk santai di Air Mancur.

Sampailah kami di sebuah Cafe Pinggir Air Mancur. Kupesan 3 bansus, 1 kwetiau goreng plus kornet, mie rebus, dan dua roti bakar rasa keju & cokelat pisang. Kami nikmati sajian sambil bercengkrama soal raja-raja di tanah Jawa, tataran Sunda. Kami juga mematangkan rencana kunjungan sejarah ke situs-situs kerajaan Jawa dan Sunda, dengan melintasi kembali jalur Selatan Jawa yang cenderung sepi.

“Cari sponsor dong, Te!” pinta PS padaku.

“Wah, sponsor kayak mana? Apa mungkin ada sponsor yang mau membantu kelancaran studi sejarah kita?” raguku.

“Kan lu bisa hubungi relasilu. Ada orang Kompas, Detik, Telkom, UGM, UIN, NF, bahkan sama orang gila aja lu punya koneksi… hahaha…” Ozzy menggila.

“Ya, semoga saja ada sponsor. Soalnya gue males minta-minta sih. Semoga aja kita ada rezeki lain buat jalan lagi ke sana.” sahutku.

“Coople siap ikut kan?” Tanya PS.

“Siap lah. Dia tinggal ambil cuti aja…” Aku sok tahu soal Coople. “Alux gimana?” tanyaku membalas.

“Wah, dia mah gak bakalan nolak!” jawab PS.

Kami selesai menghabiskan malam dengan obrolan tentang sejarah. Yach, begitulah kami. Melepas rutinitas dengan nongkrong sambil diskusi yang moga-moga bermanfaat.

23.55 kami tinggalkan Air Mancur. Pulang kembali ke Base Camp. Ada energi baru untuk kembali berpikir menyelesaikan urusan yang tertunda.

foto dari http://ngintipjakarta.blogdetik.com

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas