Titik Balik

Posted on 13 January 2010 by

4


foto from kabarindonesia.com/fotoberita/asongan2.jpg

foto from kabarindonesia.com/fotoberita/asongan2.jpg

Sebuah titik balik amat penting dalam kehidupan setiap orang. Yang saya maksud adalah sebuah momentum yang bisa mengubah kehidupan seseorang dari kebekuan, stagnasi, menjadi kembali memiliki keberanian untuk menjalani hidup. Kenapa harus berani? Memang ada orang yang takut dalam menjalani kehidupan?

Ada. Contohnya adalah beberapa orang yang pernah saya kenal dulu. Sebut saja namanya Royan. Ia adalah mantan aktivis harakah islamiyah yang berusaha memperjuangkan idealisme untuk mendirikan negara Islam di Indonesia. Tentang Royan, bisa anda baca di novel saya, Jihad Terlarang, Cerita dari Bawah Tanah, terbitan Kayla Pustaka, Agustus 2007.

Ketika Royan keluar dari komunitas pergerakan underground, ia pernah mengalami kebingungan untuk mencari sumber kehidupan di dunia nyata. Kebingungannya itu merupakan hasil dari bentukan selama 10 tahun hidup di dunia bawah tanah. Sebuah dunia lain yang tak berhubungan dengan masyarakat umum. Sebuah dunia yang membentuknya menjadi manusia yang eksklusif di tengah masyarakat. Selama bertahun-tahun hidup dalam persembunyian, tak benar-benar berani tampil di masyarakat, ditambah dengan kehidupan keberagamaan yang saat itu (masa orde baru) sangat represif terhadap aktifis pergerakan. Hidup yang selalu hati-hati dari penggerebekan intel, kecurigaan masyarakat, membuat karakter Royan dan beberapa aktifis menjadi tak berani menjalani kehidupan normal.

Selepas dari keterikatannya dengan harakah (organisasi bawah tanah), Royan mau tak mau harus membiayai hidupnya sendiri. Untuk bekerja di pabrik atau perusahaan, tak mungkin bisa ia lakukan. Ia tak punya ijazah sekolah yang bisa dipamerkan saat melamar pekerjaan. Satu-satunya jalan adalah dengan usaha sendiri.

Bisa saja Royan kembali menjalani hidup bersama teman-temannya sesama mantan aktifis pergerakan, yaitu di sebuah yayasan. Tapi hal itu tidak ia lakukan, karena ia merasa tak enak mencari uang dari kegiatan yayasan nirlaba.

Beruntung, Royan bertemu dengan Engkus, yang juga mantan aktifis dari pergerakan yang sama. Ternyata Engkus juga mengalami kebingungan yang sama, bingung mau usaha apa. Apalagi dia sudah menikah dan punya 1 anak yang harus dibiayai hidupnya.

Siang itu, Royan dan Engkus berdiskusi, jalan-jalan keliling Jakarta, memperhatikan kehidupan rakyat jelata yang survive dalam kehidupannya. Mereka memperhatikan tukang gorengan, tukang koran, tukang es, dan segala macam “pelaku ekonomi dari golongan rakyat ketjil”. Mereka mempelajari semangat hidup pedagang asongan di kereta jabotabek, pengamen di bis kota, dan pedagang sayuran di Pasar Induk pada dini hari. Dari situlah mereka mendapatkan sebuah ide: “Kenapa kita tak bisa sehebat mereka?!” ungkap Engkus. Merekapun sepakat untuk menjalani hidup sebagai pedagang. Tapi apa yang akan dijual?

Kebetulan saat itu sedang ramainya pesta demokrasi di Indonesia. Partai-partai bejibun melakukan kampanye. Satu hal yang mereka lihat: banyak penjual poster partai berkeliaran di jalan-jalan. Akhirnya, mereka mencari tahu, dimana mendapatkan barang dari tangan pertama.

Setelah berkeliling mencari informasi, sampailah mereka di Pasar Pagi. Kawasan pasar lama yang ada di daerah Kota. Ternyata di sana juga tersedia segala macam barang dagangan yang biasa dijual oleh para pedagang asongan di Kereta dan di jalanan. Jadilah Royan dan Engkus pedagang poster dan kalender gantung.

Dengan kesungguhan untuk membuang ingatan tentang status mereka yang rada terhormat kala di pergerakan, dengan menanggalkan gengsi karena pernah menjadi tokoh terkenal di komunitas lama mereka, akhirnya mereka menggelar dagangannya di pinggir jalan. Di depan sekolah, di emperan prapatan, bahkan menggelar dagangannya di pusat wisata seperti di Ragunan Jakarta. Sebuah momentum yang benar-benar menguji kesungguhan mereka.

Menjadi pedagang emperan ternyata tak bebas juga. Mereka harus berhadapan dengan trantib, yang selalu menangkapi pedagang kaki lima. Merekapun juga harus ditangkap satpam Kebun Binatang Ragunan, karena nekad menggelar dagangannya dekat kandang Orang Utan Ragunan.

Pengalaman itu menjadi titik balik bagi Royan dan Engkus untuk menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa. Menjalani hidup ril yang penuh dengan resiko. Sejak saat itu, mereka tak lagi memiliki mimpi-mimpi yang muluk tentang kehidupan ideal berdasarkan syariat. Mereka berubah menjadi rakyat jelata. Menyatu dan banyak belajar dari rakyat endonesya yang survive walau hidup di jalan.

Itulah sepenggal kisah yang membuat Royan dan Engkus menyadari, bahwa hidup menjadi rakyat endonesya memang harus berani membuang gengsi, menyingkirkan rasa malu walau harus bertemu dengan mantan anak buah mereka yang rata-rata mahasiswa di Jakarta. Mereka berharap agar teman-temannya yang masih hidup di dalam dunia impian, berani untuk hidup apa adanya. Mereka menyadari bahwa kehormatan yang pernah mereka dapatkan ketika masih di dunia underground tak ada artinya dan tak bisa dibanggakan, dibandingkan dengan kehormatan nenek tua yang berjualan sayuran di pasar dini hari di Kramat Jati.

Pada buku saya yang baru terbit Januari 2010, banyak obrolan saya dengan rakyat endonesya yang layak dibanggakan daya hidupnya. Obrolan dengan tukang gorengan, tukang martabak, kue putu, pengemis, dan para pejuang lainnya, yang hidup terhormat sebagai orang yang bertanggungjawab untuk menghidupi keluarganya. Justru kehidupan rakyat endonesya yang seperti itu penuh dengan pelajaran yang mencerdaskan emosi. Merekalah guru kehidupan yang sesungguhnya.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas