10 Juta Lenyap Sudah

Posted on 5 February 2010 by

9


uangTugino pulang kerja dengan riang gembira. Ini masih jam 4 sore. Mestinya ia belum jam pulang kerja, tapi karena Ngkoh Cin Lung sedang tak ada di kantor, kepada bagian HRD, Tugino beralasan anaknya sakit dan mau membawanya ke dokter. Padahal, sebenarnya ia tak sabar setelah mendapatkan sms dari dari calo tanah tadi pagi.

“No! Uang bagian kamu sudah saya titipkan istrimu, pas kamu berangkat kerja tadi. Lumayan, 10 juta! semoga bermanfaat ya, No!”

Begitu isi sms dari rekannya sesama calo tanah. Gara-gara SMS itu, Tugino tak betah berlama-lama di kantor. Seragam Satpam yang ia kenakan terasa sempit. 10 juta! hanya itu yang ada di kepalanya. Belum pernah seumur-umur ia mendapatkan uang sebanyak itu. Dan baru kali ini ia berhasil mencalokan tanah di sekitar Cikarang, setelah puluhan kali bersengketa karena kasus 3 in 1 : 3 sertifikat asli untuk 1 kavling 😀

Tergesa-gesa Tugino melompat dari angkot, menelusuri jalan aspal bolong-bolong di pinggir kali Tegal Gede, belok ke gang buntu, dan membuka pintu rumahnya dengan salam, “Nem, tadi bang Japra nitipkan uang kan?”

Tuginem – istri resmi Tugino –  terkejut. Kehadiran suaminya telah mengganggu keasyikannya menikmati aksi Shah Ruk Khan, bintang film India pujaannya. “Kalo datang jangan ngagetin dong, mas!” seraya menekan tombol pause pada remote control DVD Player. Otomatis gambar bintang pujaannya mematung dengan mulut monyong. Jelas sekali detil wajah sang bintang karena tampil pada TV 29” dengan resolusi tinggi.

Tugino gantian terkesima, “Hah? TV dari mana tuh, Nem? Hah? DVD baru, nem?!!!”

“Ya iya lah, mas. Tadi kan bang Japra ngasih uang seamplop coklat. Masih ada lebel banknya, 10 juta, mas!” jawab Tuginem, innocent.

“Itu uang titipan, nem?!” Tugino marah. Ia bergegas duduk di depan istrinya.

“Bang Japra nggak bilang nitip. Dia cuma bilang, ini hak kalian, semoga bermanfaat! cuma itu.

“Duuh, Nem! Itu uang udah ada rencana pengeluarannya! kamu jangan seenaknya pake gitu aja. Gimana sih kamu! Malah kamu belikan barang-barang nggak berguna gitu!!!”

“Lha, mas ini bagaimana tokh? Barang bagus begini dibilang nggak berguna?! Jaman sekarang sudah tak pantas pakai VCD Player, mas! Semua orang sudah pakai DVD! Lagipula, TV kita yang 14” sudah tak muat buat memunculkan gambar DVD yang bagus-bagus, mas! Gimana sih kamu ini. Kalau tak ada hiburan, aku mau ngapain lagi di rumah? kerja nggak boleh!!!” mulut Tuginem makin monyong, itulah indikator kedongkolannya.

“Tapi itu bukan cuma uang aku, Nem! Aku mesti bagi-bagi sama teman-teman yang berjasa jualin tanah! Lagipula aku sudah rencana mau nyumbang 1 juta ke Panti Asuhan, Duuuh, Nem…. Mana sisanya?”

“nih!” Tuginem memberikan amplop coklat dengan tatapan tetap pada wajah bintang pujaannya di TV barunya.

“Haaaah?? tinggal sejuta, nem?!” Tugino mangap. Matanya memelototi wajah sang istri yang sedang fokus melanjutkan film favoritnya.

“Emang tinggal segitu, mau diapain lagi? Kwitansinya ada semua koq. Ngapain sih aku ngentit uang kamu! Memangnya kamu, yang sering ngentit uangku waktu aku masih kerja …” jawab Tuginem, santai. “Katanya mau nyumbang Panti Asuhan 1 juta. Ya, pas kan?!”

“Anak-anak kamu belikan apa?” tanya Tugino tentang nasib ketiga anaknya yang biasanya, kebutuhannya sering dilupakan oleh ibu kandungnya itu.

“Uang 10 juta mana cukup buat beli kebutuhan anak-anak, mas! Piye tho?” Tuginem cemberut.

Tugino berjalan lunglai dan merebahkan tubuhnya di atas meubel panjang. Lemas. Kepalanya mendongak beralaskan pinggiran meubel, menatap ke langit-langit rumah yang blang-blentong. Tangannya masih menggenggam uang sejuta.

Pupus sudah rencana Tugino terkait uang 10 juta. Terutama rencananya mengunjungi Inah, selingkuhan Ngkoh Cin Lung, atasannya, yang merangkap sebagai selingkuhannya juga… Padahal Tugino berencana memanjakan Inah dari sebagian harta yang ia punya.

Advertisements
Posted in: Serial TnT