Kerja Sepenuh Hati

Posted on 1 March 2010 by

6


kerja-kerasMinggu pagi saat aku masih berbaring menikmati nyeri, kuterima sms dari seorang “mantan” murid SD-ku yang kini sudah bekerja sambil kuliah. Kubalas smsnya. Ia balas lagi, kubalas lagi… ah, kuposting saja seperti ini :

FM : Kerja keras itu apa dan bagaimana setelah kerja keras, apakah akan sukses?

MT : Ada kerja keras dan kerja cerdas.

FM : Menurutku, orang yang kerja cerdas karena sebelumnya ia sudah terlebih dahulu kerja keras. Jadi dia tau cara yang lebih cerdas. bagaimana bisa ia kerja cerdas tanpa kerja keras dulu?

MT : Bisa. Karena sebaiknya keduanya tak harus dipisahkan. Meskipun banyak orang yang mendikotomikannya. Contohnya ada orang yang bekerja sepenuh hari tapi tidak sepenuh hati. Kamu sendiri, bagaimana kamu melakukannya?

FM : Iya lah, pasti kerja sepenuh hati karena hasilnya akan jauh lebih memuaskan. apalagi ditambah dengan jam kerja yang banyak. tentu hasilnya lebih memuaskan.

MT : Jadi tak bisa dipisahkan. Seorang buruh yang kerja keras sepenuh hari dan sepenuh hati (ketulusan), akan memanfaatkan waktu berjalan untuk meningkatkan kualitas dirinya. misalnya dengan belajar, kuliah, berinteraksi, dll. Dari kecerdasannya memanfaatkan waktu secara positif, jika ia mendapatkan peningkatan status, itu merupakan kepantasan yang Tuhan berikan atas kecerdasan dan ketulusannya.

FM : Butuh waktu yang panjang ya, Om. Karena emang gak ada yang instan. truz gimana caranya supaya bisa menikmati perjalanan menuju kesuksesan itu?

MT : Kesuksesan seperti apa yang kamu mau? Tentukan dulu titik sukses itu dari sekarang. Karena banyak orang yang bilang mau jadi orang sukses tetapi ketika ditanya mau sukses seperti apa dan bagaimana, malah kebingungan menjawabnya. Itu karena ia belum memahami dan merencanakan satu titik yang spesifik dan fokus dalam pencapaian fase-fase menuju titik tersebut.

FM : Jadi aku harus menentukan dulu mau jadi apa? Lalu bagaimana bisa jika aku ingin sukses pada suatu tujuan, tapi aku bekerja pada dunia kerja yang sama sekali tak mengarah ke sana.

MT : Itulah bagian dari fase yang kamu lalui. Ada seorang yang sukses di bidang properti. Namun ia telah melewati ratusan fase yang jika dilihat sekilas amat tak sesuai dengan kesuksesannya sekarang. Ia pernah dagang asongan, jualan kue, jadi kondektur, jadi babu bahkan. Tapi karena pada setiap fase ia selalu meningkatkan kualitas diri dengan menyerap spirit yang Tuhan berikan. Maka pada saat yang tepat, Tuhanlah yang mendekatkannya pada fasenya sekarang.

FM : Om sekarang sudah jadi penulis. Itu karena sejak dulu Om selalu nulis, bahkan sejak aku masih kelas 3 SD. Sedangkan aku kerja di pabrik. Mana bisa jadi penulis?

MT : Ya, Tuhan menempatkanku sebagai penulis sekarang. Tapi tahukah kamu, aku juga pernah dagang asongan di kereta, jualan di emperan depan sekolah, jadi teknisi komputer, jadi buruh di sebuah pabrik di kawasan industri Cikarang, jadi kuli bangunan di Pluit, buka toko komputer di Harco, nyasar jadi guru SD di Bekasi, bahkan jadi trainer di sebuah SMA di Cilegon, menjadi konsultan IT, dll (dan lupa lagi)… Memang sepertinya fase itu tak berhubungan dengan dunia kepenulisan. Tapi sebenarnya, ketika aku melewati fase-fase tersebut, aku tak pernah berhenti menulis. Justru pada setiap fase itu, aku mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis.

FM : Saat melakukan pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan profesi sekarang, tetap nyaman, om?

MT : Itulah, pikiranmu masih dikotomis. Justru bagiku semua fase yang kulewati erat hubungannya dengan dunia tulis menulis. Karena pada semua fase tersebut, aku selalu menuliskan apa yang kualami, realitas yang kuhadapi, dan apa yang mesti kuserap sebagai spirit yang bisa meningkatkan kepantasanku. Lagipula kenyamanan itu relatif. Tetapi justru ketidaknyamanan itulah yang memicuku untuk menulis.

FM : Jadi intinya kerja keras, cerdas, sepenuh hati dan fokus pada rencana kesuksesan ya, Om?

MT : Nah, itu! Jika ingin, Tuhan memberikan kepantasan untuk kita, maka pantaskanlah diri kita untuk menerima kepantasan itu.

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas