Menimbang Kewibawaan

Posted on 8 March 2010 by

8


patungPara pendemo diamankan pihak keamanan karena dianggap mengancam wibawa pemerintah. Seperti apa sih wibawa pemerintah? Yang aku tahu, demo maupun protes yang digelar oleh rakyat merupakan ekspresi dari rasa ketidakadilan. Ketika rakyat merasa pemerintahnya tak adil, dimanakah wibawa pemerintah? Apakah mereka yang protes itu patut disalahkan karena pemerintah jadi tak berwibawa atau siapakah sebenarnya yang membuat pemerintah jadi tak berwibawa?

Yang kutahu, kewibawaan itu merupakan citra diri. Kita tak bisa memaksa orang lain agar menganggap kita berwibawa. Kewibawaan itu muncul sendiri jika kita memang berlaku baik, adil, dan menyenangkan banyak orang. Tapi tidak semua orang akan menilai kita berwibawa. Bisa jadi hanya orang-orang terdekat dengan kita yang menganggap berwibawa, namun tidak buat mereka yang tak begitu kenal. Lantas, mestikah kita mencibir mereka yang tak kenal dengan kita?

wibawa n : 1. pembawaan yg mengandung kepemimpinan sehingga dapat mempengaruhi dan menguasai orang lain;
2. kekuasaan; berwibawa v mempunyai wibawa (sehingga
disegani dan dipatuhi): orang yg ~ layak dijadikan pemimpin;
kewibawaan n 1 hal yg menyangkut wibawa; 2 kekuasaan yg diakui dan ditaati

Kalau menuruti kamus, ya kewibawaan merupakan pembawaan. Jadi tak bisa dibuat-buat atau direkayasa. Kewibawaan selaras dengan kekuasaan dan kebijaksanaan. Jika keduanya laras itu compatible, maka otomatis, tak usah dibuat-buat juga kewibawaan akan terlihat secara otomatis.

SBY adalah presiden yang berwibawa. Itu menurut orang-orang terdekat mereka dan yang mengidolakannya. Begitupula dengan Gus Dur, Megawati, Habibie, Soeharto, dan Sukarno. Para pemimpin itu sangat berwibawa dan disegani di mata para pendukungnya saja. Bagi orang yang berpandangan beda, jelas kita tak bisa memaksakan agar mengakui kewibawaan presiden.

Bung Hatta adalah figur yang berwibawa, tapi tidak bagi mereka yang tak suka dengan prespektifnya. Rendra, Iwan Fals, Gunawan Muhammad, Xanana Gusmao, Kartosuwirjo, Khomeini, Bang Jampang, Bang Pitung, dan sosok lainnya adalah orang yang berwibawa bagi pencintanya, tapi tidak bagi yang resah karenanya.

Begitu pula dengan kabinet yang dibentuk oleh beberapa presiden kita. Tidak semua orang menganggapnya berwibawa. Apalagi dengan anggota parlemen dan partai politik yang pandai bicara tak tak pandai merasa. Yang terakhir ini saya rasa paling tidak berwibawa dalam sejarah endonesya.

Setiap kemunculan protes dari segelintir atau sekelompok rakyat, mestinya jangan dihadapkan pada urusan kewibawaan. Protes harus dihadapkan pada masalah utama yang membuat protes itu muncul. Protes korban Lumpur di Sidoarjo (Lapindo) tak matching jika dihadapkan dengan urusan kewibawaan. Begitu pula dengan protes terhadap KPU atau KPUD, ngaco sekali jika dipaksakan menjadi pasal kewibawaan. Protes yang bawa-bawa kerbau, ayam, cicak, buaya, dan binatang lainnya, jangan dihadapkan dengan urusan kewibawaan, tapi tempatkanlah sesuai dengan kritik yang dibawa oleh para demonstran. Aksi terorisme dan separatisme juga begitu, tak tepat kalau mereka dijerat dengan hukum tentang kewibawaan pemerintah dan atau kepala negara. Demo Pedagang Kaki Lima juga begitu, jangan main pentung karena mereka dianggap merongrong kewibawaan pemerintah daerah, tapi apa yang membuat mereka berdemo, itu yang harus ditantang. Mestinya kita menangkap pesan utama yang mereka (para pendemo) sampaikan, bukan bagaimana cara mereka demontrasi. Jangan lihat siapa atau bagaimana para pendemo, tapi lihatlah apa yang mereka suarakan!

Orang yang merasa dan memaksa dirinya berwibawa adalah orang yang tak berwibawa. Kewibawaan tak dibuat-buat, apalagi disebut-sebut. Kewibawaan itu menjelma sendiri. Tidak direkayasa. Justru kewibawaan yang dibuat-buat, direkayasa, hanya akan bikin orang muntah melihatnya.

Memang nilai kewibawaan itu relatif. Kata tukang ojeg di depan komplek rumah saya, pak Harto itu lebih berwibawa ketimbang presiden pasca reformasi. Saya tanya, kenapa dia menilai Soeharto berwibawa. Tukang ojeg yang sudah tua itu beralasan, waktu zaman pak Harto, barang-barang murah, cari duit gampang, kerja gampang. Kalau zaman sekarang, apa-apa serba mahal, serba susah.

Lain lagi menurut bang namun. Waktu zaman Soeharto, yang korupsi cuma sedikit, korupsi bisa diatur sehingga tak begitu terasa di kalangan rakyat kecil. Nah, saat ini yang korupsi banyak, korupsi merajalela di segala sektor kehidupan. Kata bang Namun lagi, waktu zaman ncing Harto, anggota parlemen yang korupsi lebih sedikit ketimbang sekarang. Jadi rakyat nggak kebagian apa-apa. “Jaman karang, semuenye mahal. Rumesakit mahal, sekole nyang rada bener, mahal! Tuh lu liat, anak gue, sekolenye dijalanan, alias ngamen!” Kalo sudah nyerocos, bang Namun susah didiamkan. 

Itu penilaian rakyat kecil, “oknum” tukang ojeg dan tukang cukur. Penilaian mereka lebih didasari oleh urusan sehari-hari yang mereka rasakan : beban hidup! Meskipun kewibawaan tak bisa dilihat dari beratnya beban hidup.

Kalau kata mang Papay, kewibawaan pemimpin bisa dilihat dari caranya merespons kritik. Jika sang pemimpin itu mengeluh di hadapan jutaan rakyatnya, jika sang pemimpin tak tahu kalau banyak kaki tangannya yang terjerumus dalam kemewahan, jika sang pemimpin tak mampu menenangkan emosinya sendiri, tak bisa disebut sebagai pemimpin yang berwibawa.

“Saat staf saya mengambil kebijakan tersebut, saya sedang berada di luar negeri…. bla…bla…bla… namun saya tak menilai kebijakan tersebut salah…”

Jika ada pernyataan seperti di atas dari seorang pemimpin, apakah berwibawa? Mungkin ia ingin dianggap bersikap bijaksana. Tapi karena sikap tersebut memang bukan muncul dari bawaan sang pemimpin, ya kesannya malah cuci tangan dan tetap seolah-olah tak menyalahkan stafnya.

Masihkah pemerintah merasa berwibawa ketika rakyat kita banyak yang menggelandang? Masihkah pemerintah memaksa berwibawa ketika rakyat kita banyak yang tak sanggup bayar rumah sakit, banyak yang tak mampu sekolah, banyak yang tak sanggup beli beras, banyak yang tak kebagian zakat, banyak yang tak sanggup membeli kitab suci, banyak yang nyolong ayam, nyolong jemuran, nilep uang kegiatan, lantaran kelaparan?

Advertisements
Tagged:
Posted in: Kontradiksi