Hanya Rp.16.000,-

Posted on 14 April 2010 by

8



pict0055Seorang tamu datang membawa beragam pertanyaan soal pendidikan yang akan diterima anaknya, jika anaknya itu sekolah di sini. Mulai dari visi dan misi sekolah, kurikulum pendidikan, kitab-kitab tradisi pesantren yang diajarkan, sampai dengan kegiatan harian anak-anak yang bersekolah di sini. Iapun menanyakan juga soal makanan dan istirahat. Ia mengangguk-anggukan kepala tanda setuju bahwa anaknya akan mendapatkan jaminan makan sehari tigakali. Normal. Di sekolah inipun anaknya mendapatkan kamar, tempat tidur, dan lemari pribadi. Sebagaimana layaknya sebuah boarding school (pesantren), anak-anak tinggal menetap di asrama, dan dibimbing full time oleh guru yang ada.

“Berapa biaya bulanan yang harus saya bayar, ustadz?” tanya orang tua calon santri itu. Santri adalah sebutan untuk siswa yang hidup di pesantren.

“Rp.500.000,- per bulan, pak.” Jawab ustadz

“Huaaaah mahal banget!!! Sekolah seperti ini saja setengah juta?”

“Mahal?” Ustadz tersenyum kepada orang tua yang memarkirkan mobilnya yang mulus di lapangan upacara pesantren.

“Masih bisa nego?” tawarnya, sambil mengecek blackberry-nya karena ada pesan masuk.

“Menurut Bapak, pantasnya berapa?” tanya ustadz

“Memang rinciannya bagaimana?” ia balik bertanya

“Coba bapak hitung sendiri, deh. 500 ribu dibagi 30 hari. Itulah biaya hidup santri per hari di pesantren ini. Dengan biaya perhari itu, santri mendapatkan makanan normal sehari tiga kali, pendidikan, sosialisasi, dan hal-hal lain yang bersifat spiritual. Silakan Bapak hitung.” ustadz tersenyum ringan.

“Ya, sudah saya hitung. hasilnya 16 ribuan.”

“Mahalkah uang segitu untuk menitipkan anak Bapak di pesantren ini, dimana ia akan dilayani selayaknya anak kami, dan guru-guru disini menggantikan fungsi kepengasuhan orang tua terhadap mereka?”

“Iya ya… saya baru ngeh.” Bapak itupun tersenyum. “padahal di sekolahnya kemarin, uang jajannya saja 25 ribu/hari.” Iapun tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Maafkan saya, ustadz. Saya baru sadar kalau uang segitu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang akan anak kami dapatkan di sini. Maafkan saya, ustadz.”

“Bapak tidak salah, hanya belum ngeh. Nah, setelah ngeh, kan kita jadi tersenyum, pak.” Ustadz menularkan senyum kepada tamunya.

*gambar : lontong cap go meh, waktu jajan pagi di Sempur. (tak ada hubungannya dengan tulisan, hehehe)

Advertisements
Posted in: Catatan Lepas