Masakan Spesial ala MT

Posted on 16 April 2010 by

14



penggorenganKadang aku masak sendiri, seperti ketika menciptakan menu makan malam Minas Tirith. Saat istriku sakit, giliranku memasak apapun bahan yang kutemukan di dapur dan kulkas. Ngikutin Dapur Hes dan Bunda Desi, aku bikin deh sajian menunya. Kunamakan menu makan siang ini dengan nama “Tumis Udang Nanas Hijau Kriuk” hahaha… Kenapa pakai kriuk? Saya akan mempertanggungjawabkan jawabannya di akhir sajian ini.

Bahan :

  • Udang yang masih segar. Sisa belanjaan istriku dari warung Haji Oji kemarin.
  • Tempe berbalut daun pisang, 1 potongan standar tukang tempe
  • Sepotong Nanas yang dibeli dari tukang rujak uleg di depan pesantren 🙂
  • Kacang Panjang seadanya.
  • Labu siyem seadanya juga.
  • Sebutir tomat warna merah pengundang selera
  • Cabe rawit 3 biji saja, hanya untuk pelengkap selera
  • Bawang putih 2 biji
  • Garam seperlunya
  • Gula pasir semaunya
  • Lada bubuk sebagai syarat saja.
  • Minyak goreng
  • Sesendok teh margarine
  • Air putih

Alat :

  • Kompor Gas sekaligus Tabung Gas dong ah
  • Penggorengan alias wajan
  • Codet, tapi bukan syam codet yang rajin nyetrika sendiri :p
  • Piring semi mangkuk untuk wadah siap saji

Cara Membuatnya :

  • Nyalakan kompor gas, taruh penggorengan dan tuangkan minyak goreng sesuai perkiraan sendiri
  • Panaskan Minyak pada wajan tersebut. Letakkan telapak tangan di atas wajan untuk mendeteksi kalau minyaknya sudah panas. (ini cuma kebiasaan saya aja)
  • Geprak bawang putih lalu masukkan ke wajan. Tambahkan air putih agar tidak gosong.
  • Masukkan tomat yang sudah dipotong-potong. Juga cabe rawit yang senasib dengan tomat.
  • Masukkan pula nanas yang sudah dicincang.
  • Begitupula dengan tempe yang dipotong dadu, lempar ke wajan dengan gaya koki dadakan.
  • Beri bumbu pelengkap, seperti garam, lada bubuk, gula pasir, margarine, sesuai feeling.
  • Aduk-aduk lagi sampai airnya sedikit meniris.
  • Waktu memasak tinggal 10 menit lagi. Masukkan labu siyem yang sudah dipotong-potong.
  • Kacang panjang juga dimasukkan tapi jangan sampai layu agar ketika dimakan bisa mempertanggungjawabkan sebutan “Kriuk” pada nama menu ini 🙂
  • Terakhir, masukkan udang segar yang sudah dibuang kulit dan usus halusnya. Kenapa udang saya masukkan terakhir? Memasak udang itu tak perlu lama-lama karena malah membuat dagingnya keras. Cukup tak lebih 10 menit saja, agar cita rasanya tetap terjaga.
  • Jika sudah merasa mantap, angkat wajan lalu tuangkan masakan pada wadah yang telah disediakan.
  • Baru deh matikan gas. Kenapa matikan gasnya terakhir? Ini cuma kebiasaan saya saja. Kalau mematikan gas dengan wajan yang masih bertengger di atasnya, bisa mengurangi aroma masakan.

Begitulah menu makan siang yang aku buat. Tidak seperti menu Minas Tirith yang tak mengundang selera anak dan istri. Menu kali ini justru membuat rasa lapar mereka semakin menjadi-jadi dan siap menempur masakanku.

Advertisements
Posted in: Sepele