Pangkat Terakhir

Posted on 4 May 2010 by

13



Ini catatan perjalananku di Bali bersama teman-teman dalam sebuah ekspedisi. Di lampu merah, karena mau belok kanan maka Kijang kami mengambil sisi kanan jalur. Tetapi ternyata itu salah. Kami tak tahu kalau jalan itu dipakai 2 jalur. Akhirnya pak Polisi menyempritkan peluitnya. Berhentilah kami di sisi jalan. Ia mengajak temanku, Iqbal yang menyetir, untuk ke pos polisi di ujung tikungan.

“Mang Hanafi! Kan Mamang mantan Polisi, coba dong bantuin Iqbal tuh!” pintaku kepada Mang Hanafi, orang tua yang mendadak memaksa ikut perjalanan kami. Lebih jelas kenapa dia akhirnya ikutan, bisa dibaca di postingan sebelumnya.

“Ya, Mamang turun deh…” Akhirnya ia membuka pintu mobil dan berjalan menuju Pos Polisi. Aku mengikutinya dari belakang.

Sampai di Pos Polisi kulihat Petugas Polisi sedang menjelaskan kesalahan temanku, yang salah jalur. Mang Hanafi langsung saja mendekati mereka berdua, lalu menyalami Polisi.

“Maaf, memang kesalahannya apa?” tanya Mang Hanafi, sopan.

“Salah jalur, pak! Itu bahaya. Untung saja dari arah lain tak ada kendaraan yang masuk. Kalau ada, bisa macet atau bahkan bisa saja tabrakan. Itu kan bahaya, bisa menelan korban!” Jawab petugas Polisi.

“Oh, begitu. Di sini Kapolresnya siapa?” Tanya Mang Hanafi.

Petugas Polisi menyebutkan nama atasannya. “Memang kenapa, Pak?” Tanyanya.

“Oh, dia itu teman seangkatan saya. Dulu satu asrama, waktu sama-sama pendidikan…” Selanjutnya obrolan berkutat soal pengalaman mang Hanafi ketika masih satu asrama dengan temannya yang kini menjadi Kapolres. “Salam ya, sama dia!”

“Oh begitu, pak!” Petugas Polisi itu memperhatikan Mang Hanafi.

“Lha, Mamang ini kan sudah pangsiun, hebat ternyata teman mamang sudah jadi Kapolres di sini…” Mang Hanafi merendah. Ia memang sudah pensiun. Bukan “pangsiun” seperti yang ia katakan. “Terus bagaimana ini urusannya?” tanya Mang Hanafi lagi.

“Salah, tetap salah pak. Tapi karena ini kesalahan kecil, ya tetap ada hukumannya…” Tegas petugas Polisi.

“Apa hukumannya?” Tanya Mang Hanafi. Sementara itu aku dan Iqbal menunggu nasib saja.

“Hukumannya : Jangan ulangi lagi, ya!” Tegas petugas Polisi sambil tersenyum.

“Oh, begitu. Terima kasih ya!” Mang Hanafi menepuk-tepuk pundak juniornya itu. “Ayo kita berangkat lagi!” Ajak Mang Hanafi kepada kami.

Sebelum berangkat, petugas itu menyampaikan salam perpisahan, “Selamat jalan, ya. Hati-hati! Oh ya, maaf pak! Pangkat terakhir bapak apa ya? Nanti kalau saya ketemu Kapolres, akan saya sampaikan salam Bapak!” Tanya petugas Polisi itu.

Yang ditanya mesem-mesem menjawab, “Oh, pangkat terakhir saya KOPRAL!”

Petugas itu terkesima. Kamipun mempercepat langkah menuju kendaraan yang siap meluncur ke Tanah Lot, Bali. Di dalam kendaraan, kami semua tertawa mengingat pangkat Mamang Kami. 🙂

Advertisements
Posted in: KONYOL!!!