Pesantren Dituduh Sarang Radikalisme

Posted on 4 May 2010 by

2



Sempat beredar isu bahwa pesantren adalah tempat berkecambahnya radikalisme. Isu ini bahkan sempat disikapi oleh pemerintah dengan rencana lucu (yang gagal) untuk memeriksa sidik jari para santri pesantren di Indonesia. Belum lagi ditambah dengan kecurigaan dunia Barat – yang dimotori oleh Amerika Serikat pasca Tragedi 11 September – yang secara gencarnya menuduh radikalisme/terorisme, dengan slogan ‘are you with us or with them-terrorist-‘, yang menuding lembaga-lembaga pendidikan tradisional Islam, seperti madrasah dan belakangan juga pesantren dianggap sebagai the breeding ground, tempat perkecambahan radikalisme.

Merujuk pada abad-abad awal perkembangan Islam di Nusantara, pesantren menjadi pusat pembangunan mental dan moralitas masyarakat. Pesantren yang dibangun oleh para banyak ulama pengembang Islam dan Walisongo, tak pernah mengarahkan santrinya untuk memberontak kepada kekuasaan kerajaan. Kultur masyarakat Jawa yang akomodatif dan sinkretis, membuat proses Islamisasi tidak berbenturan dengan kekuasaan. Masyarakat Nusantara sudah terbiasa dengan munculnya agama-agama baru, mulai dari Hindu, Budha, bahkan Islam. Adapun konflik kekuasaan yang sempat terjadi, yang mengaitkan agama, mengutip pandangan Seno Gumira Ajidarma pada buku Nagabumi, pada dasarnya merupakan tradisi konflik kekuasaan turun-temurun di kalangan penguasa. Konflik tersebut tidak pernah melibatkan rakyat secara langsung. Masyarakat Nusantara, terutama Jawa pada umumnya tidak pernah memusingkan perbedaan keberagamaan.

Dari sudut pandang sejarah, tuduhan yang dialamatkan kepada pesantren di Indonesia sebagai sarang radikalisme merupakan tuduhan tanpa argumentasi yang kuat. Jika tudingan tersebut terus dipertahankan, bisa jadi akan semakin merusak kepercayaan kalangan pesantren kepada pemerintah. Dampak negatifnya adalah meracuni persepsi generasi kini dan mendatang terhadap pesantren yang menyeramkan, kuno, kumuh, lusuh, dan ketinggalan zaman. Padahal fakta sejarah justru membuktikan bahwa pesantren banyak melahirkan tokoh bangsa.

Coba kita ingat kembali tokoh-tokoh yang berjasa dalam perjuangan kebangsaan maupun pembangunan nasional. KH. Wahid Hasyim, yang membentuk organisasi Nahdhatul Ulama adalah santri Kyai Kholil Bangkalan di Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Begitupun dengan rekan seperguruannya, KH. Ahmad Dahlan yang mengambil peran dalam kelahiran pesantren modern dan organisasi Muhammadiyah. Jalur modern ini juga dilakukan oleh A. Hasan yang melahirkan Persis Bangil. Sebut lagi, Buya Hamka, HOS. Cokroaminoto, M. Natsir, Mukti Ali, Din Syamsuddin, Nurcholis Madjid, Hidayat Nur Wahid, dan yang tak asing lagi adalah Abdurrahman Wahid, Presiden Indonesia keempat. Mereka adalah tokoh yang memiliki peran penting dalam perjuangan dan pembangunan bangsa. Masih banyak jika mau kita sebut satu persatu tokoh-tokoh dari berbagai daerah. Tapi sedikit tokoh yang telah ditulis tadi sudah cukup banyak, sebagai bukti betapa pesantren telah melahirkan tokoh penting bangsa ini.

Sikap radikal sendiri adalah reaksi yang wajar terjadi pada setiap orang ataupun sekelompok orang yang hidup pada situasi yang penuh dengan tekanan, pengkhianatan, dan penindasan. Dalam konteks Indonesia era kolonial, perjuangan mencapai kemerdekaan banyak didukung oleh sikap radikal kalangan santri. Kyai, yang merupakan tokoh masyarakat yang dipatuhi oleh masyarakat, menumbuhkan semangat radikal untuk menggerakkan rakyat memerangi penjajahan, tanpa mengincar kekuasaan politik. Gerakan radikal yang tumbuh dari kalangan pesantren adalah konsep jihad yang sesuai dengan konteks penjajahan pada saat itu.

Karena itu isu radikalisme pesantren adalah sebuah tuduhan yang aneh dan baru terjadi belakangan ini saja. Pesantren sebagai institusi keagamaan tidak didirikan untuk semata-mata menanamkan radikalisme. Justru karakter otentik pesantren dari zaman awal berdirinya pesantren sesungguhnya menampilkan wajahnya yang toleran dan damai. Di pelosok-pelosok pedesaan Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, banyak ditemukan performance pesantren yang berhasil melakukan dialog dengan budaya masyarakat setempat. Pesantren-pesantren yang ada di Jawa, terutama yang bermazhab Syafi’i dan memiliki hubungan dekat dengan Nahdlatul Ulama (NU) menampilkan sikap akomodasi yang seimbang dengan budaya setempat. Sehingga pesantren mengalami pembauran dengan masyarakat secara baik. Keberhasilan pesantren seperti ini kemudian menjadi model keberagamaan yang toleran di kalangan umat Islam pada umumnya. Tak heran, jika karakter Islam di Indonesia seringkali dipersepsikan sebagai muslim yang ramah dan damai.

Keramahan wajah pesantren dibentuk oleh karakter pesantren itu sendiri, yaitu :

  1. Tawassuth yang berarti tidak memihak atau moderasi.
  2. Tawazun, menjaga keseimbangan dan harmoni.
  3. Tasammuh, toleransi.
  4. Tasyawwur, musyawarah.
  5. Adl, bersikap adil dalam beraksi ataupun bereaksi.

Kelima karakter inilah yang membentuk santri dalam menjalani kehidupan ril di masyarakat. Dengan lima karakter seperti disebutkan di atas, pesantren sebagai institusi pendidikan yang mengajarkan kearifan, sangat berperan dalam meluruskan pemahaman tentang ajaran murni Islam yang secara otomatis dapat meluruskan kesalahpahaman masyarakat, tentang istilah-istilah yang berkembang, misalnya dalam konteks ini adalah tentang jihad dan radikalisme.

Sebagai salah satu pesantren tertua di Bogor, Jawa Barat, Pesantren Daarul Uluum memiliki peran tersendiri dalam melakukan deradikalisasi dan kearifan. Sejak awal, pendiri Pesantren, KH. Elon Syudja’i berperan penting dalam membantu kalangan radikal saat itu untuk meninjau kembali sikap radikalnya dan kembali berbaur untuk membangun masyarakat, dengan pesantren sebagai pusatnya. Program ini baru dilembagakan dalam sebuah organisasi non struktural : ICDW (Indonesian Center for Deradicalisation and Wisdom) pada November 2009, saat pesantren dikelola oleh generasi ketiga keluarga KH. Elon Syudja’i. Berbagai kegiatan yang diprogramkan ICDW sesungguhnya telah lama berjalan dibandingkan dengan bentuk resmi organisasi nirlaba tersebut.

Pemisahan ICDW dari struktur pesantren dilakukan agar masing-masing pengelola fokus pada spesialisasinya. Mereka yang mengelola pesantren fokus meningkatkan kualitas institusi pendidikan. Begitupun dengan para pengelola ICDW, fokus dalam keempat program utamanya :

  1. Riset dan Penerbitan
    ICDW bekerja sama dengan siapapun untuk melakukan penelitian seputar gerakan radikal dan deradikalisasi, penelitian tentang keragaman dan kearifan budaya lokal di Indonesia. Hasil penelitian diterbitkan dalam bentuk cetak dan atau digital.
  2. Dialog & Advokasi
    ICDW melakukan dialog, diskusi, seminar, ataupun wawancara, tentang deradikalisasi. ICDW membina mantan aktifis gerakan radikal demi terjadinya perubahan sikap keberagamaan dari radikal kepada moderat, agar bisa berbaur dalam masyarakat.
  3. Beasiswa
    ICDW memberikan beasiswa pendidikan kepada anak-anak mantan aktifis gerakan radikal, terutama yang telah berstatus sebagai yatim/yatim-piatu, dengan tujuan agar anak-anak tersebut tumbuh sebagai generasi bangsa yang shaleh.
  4. Dukungan Pesantren
    Program dukungan kepada pesantren Daarul Uluum, yang menyelenggarakan program pendidikan Islam tingkat dasar dan menengah yang menitikberatkan pada pembentukan sikap beragamaan yang toleran terhadap keberagaman pemikiran dan budaya.

Sekarang adalah saatnya untuk mengoreksi persepsi yang salah terhadap pesantren. Pesantren bukanlah institusi yang mengancam eksistensi pemerintah. Justru sepantasnya pemerintah, menjalin komunikasi yang baik dengan pesantren untuk mengantisipasi tumbuhnya radikalisme di masyarakat yang selalu memanfaatkan terminologi agama (Islam) untuk merekrut pengikut.

Dengan segala peran sentral pesantren dalam proses tumbuh-kembang bangsa, sudah saatnya pemerintah memandang pesantren lebih terhormat lagi, dengan wujud kebijakan yang lebih pro kepada pesantren. Dukungan materil dan profesionalitas terhadap pesantren mesti menjadi agenda prioritas pemerintah. Jangan hanya mendekati pesantren ketika menjelang Pemilihan Umum saja.

Pesantren bukan lembaga pendidikan yang kuno. Justru pesantren adalah lembaga pendidikan alternatif terbaik dalam menanamkan tradisi keilmuan, menanamkan sikap mandiri, dialogis, toleran, dan membekali penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi generasi bangsa. Jika pada masa lalu pesantren banyak melahirkan tokoh bangsa, saat inipun bisa!

Note :
ini adalah potongan makalah yang disampaikan MT pada Seminar Kebangsaan,
Membedah Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat, di Bogor, 1 Mei 2010.
Diselenggarakan oleh ICDW
Advertisements
Posted in: Catatan Lepas