Menciptakan Kenyamanan

Posted on 18 May 2010 by

4



Jam 6.40 pagi temanku mengirimkan SMS. Ia mengeluhkan hidupnya setelah aku dan beberapa teman-teman terbaiknya pergi meninggalkannya di sebuah kota.

“Sejak kalian pergi, suasana di sini tidak asyik lagi. Orang-orang baik telah pergi. Aku jadi enggan bekerja lagi di sini!” ungkapnya.

“Masa sih, gak ada orang baik? Setiap zaman di setiap tempat pasti ada orang baik.” semangatku untuknya.

“Pernyataanmu tak berlaku di sini. Sekarang hanya tersisa orang-orang yang hanya memikirkan karirnya sendiri. Tak punya kepedulian terhadap sesama. Bahkan cenderung terjadi persaingan kurang baik secara diam-diam. Yang satu menjatuhkan yang lain, dari belakang. Benar-benar nggak nyaman!” Urainya menambah kepiluan nasibnya.

“Berarti, kamu harus mengambil kesempatan ini untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik!”

“Wah susah! Bisa-bisa aku malah ketularan bego! Sekarang ini semakin sulit. Dulu, jika di antara kita ada masalah, pasti kamu atau teman-teman kita lainnya mengajak berkumpul dan memusyawarahkan masalah maupun pergunjingan. Hasilnya, selalu terjadi saling pemahaman, saling memaafkan, dan tekad bersama untuk memperbaiki sikap dan keadaan. Sekarang, tidak ada lagi teman-temanku yg peduli seperti kalian!” Sesalnya.

“Dulu, ketika kita sama-sama baru datang ke kota itu, ke wilayah kerja itu. kita tak saling kenal. Lalu kita mau berkenalan dan menjalin keakraban. Akhirnya kita bisa menjalin persahabatan bahkan hingga kita terpisah oleh jarak. Nah, kupikir, kamu hanya tinggal mengulang apa yang pernah kita mulai dulu, dengan orang-orang yg baru! Itu menantang bukan?!” Motivasiku.

“Yakin aku bisa memulai sendiri?” Ia meragu.

“Kenyamanan itu harus diciptakan, bukan dinantikan!” Paksaku.

“Baiklah, terima kasih. Akan kucoba!” SMS penutup darinya.

Advertisements